Rabu, 16 Januari 2019

SMJ dan Kisah Pasukan Berani Nganu


Sejak pukul 19.00 Kedai Kebun Forum sudah mulai ramai. Selain karena waktu itu malam minggu, sebagian lainnya memang datang secara khusus untuk menghadiri undangan terbuka untuk acara yang kami selenggarakan. Dengan persiapan yang cukup mepet, dua bulan untuk mempersiapkan launching buku bukanlah waktu yang ideal untuk mencetak buku dan meluncurkannya. Sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini adalah draft yang berusia hampir satu tahun dan mangkrak kala itu karena satu dan lain hal, maka isi dari tulisan di bawah ini sengaja tidak saya edit lagi supaya euforia yang berdebar di dada kami kala itu dapat tetap terasa ketika kalian membacanya. Salam.


Tentang Syak Merah Jambu dan Pasukan Berani Nganu di Balik Launching Buku

Hari ini tepat dua minggu lalu, buku pertama kami yang kami panggil dengan sebutan “anak-anak rindu” resmi dilaunching di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta. Kami menagguhkan namanya dalam kearsipan secara resmi dengan nama, “Syak Merah Jambu, Catatan Para Perawat Ingatan”. Setelah melalui beberapa kali pertimbangan dan memutuskan nama inilah yang paling manis untuk anak pertama kami.

Singkat cerita, kami bertujuh yang bermula dari sama-sama punya kegemaran menulis, baru menyadari bahwa kegiatan menulis yang kami lakukan bersama-sama ini telah hampir berusia satu tahun di bulan Desember 2017 lalu. Tepatnya satu tahun di tanggal 28 Februari 2018. Dari situlah mulai muncul “andai-andai”, bagaimana jika kita membukukan tulisan kita selama satu tahun ini? Maka terbakarlah dada saya menerima ide ini. Saya mulai bertanya kesana-kemaari tentang seluk beluk menerbitkan buku. Beruntung di Jogja ini, jumlah orang baik dan baik sekali masih banyak, dan kawan-kawan saya yang luar biasa itu mulai membantu dengan melakukan ini itu untuk terwujudnya Syak Merah Jambu.

Saya tak akan menceritakan detail perjalanan terwujudnya Syak Merah Jambu, karena akan bisa jadi cerpen sendiri jika saya melakukannya. Bukan kenapa-kenapa, tapi terlalu banyak “drama” yang tentu saja khas dengan cerita-cerita yang sering dituliskan NDC. Tak hanya akan membuatmu ingin menangis, tapi juga tertawa, bahkan mengumpat saya nantinya. Walau saya sama sekali tak keberatan kalian melakukannya, tapi kutahan saja tak menceritakannya. Agar kalian bisa belajar menahan rasa ingin tahu kalian, dan belajar bersabar karena bukan tak mungkin kami akan menceritakannya nanti saat ada kesempatan NDC berkumpul lagi dan melakukan pentas pembacaan karya (lagi) di kota-kota lainnya. Tolong aminkan bagian ini, tolong ini tujuan mulia lhoo! (maaf, nyebut merk tegel di sini walau mereka sama sekali tak mensponsori)

Saya akan menceritakan orang-orang luar biasa yang ada di balik buku ini saja. Dan saya akan memulainya dengan Alfin Rizal dan Al Farisi. Alfin adalah seorang muda, penulis buku kumcer Lelaku dan kumpulan puisi Kesengsem. Dialah yang membuat cover buku SMJ. Sedang Farisi, seorang muda asal Sumenep yang sedang menjalani kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pembaca buku yang tekun, yang membuatnya sangat berkompeten untuk membuat layout buku. Mereka berdua sempat tidak tidur selama 2 malam demi melakukan editing SMJ agar bisa segera naik cetak. Saat itu sudah kurang satu minggu dari jadwal launching yang sudah kami tetapkan. Alfin bahkan sempat meminta langsung kepada saya untuk menunda acara launching selama satu minggu ke belakang. Tapi saya memaksa dan terpaksa mengatakan tak bisa, karena kawan-kawan dari luar kota sudah mengambil cuti di tanggal tersebut dan poster KKF yang sudah beredar kemana-mana. Maka “pasukan berani tak mandi” ini meneguhkan tekad dan hanya meminta kami sama-sama tak tidur di malam mereka mengerjakan editing buku, karena anggota NDC ini sangat pantas diberi julukan “komunitas typo garis keras”.

Maka tak tidurlah kami di malam itu. Dengan tetap aktif di group whatsapp untuk menyemangati mereka berdua. Walau saya jadi sangsi saat itu, karena bagaimana mereka bisa bekerja jika terus menerus aktif berbalas pesan WA??? Tapi kami tak kalah cerdik, membagi shift untuk tidur karena kami bertujuh itu lebih meringankan buat kami. Sedangkan Alfin dan Farisi harus menerima ini dengan (mungkin) berat hati, hahaha. Keesokan harinya, pukul 10 pagi mereka masih update foto di group. Wajah-wajah lelah mereka dan posisi Farisi yang sudah mulai berbaring di beranda sebuah tempat ngopi 24 jam di Jogja, bersiap untuk tidur. Sungguh tak tega sebetulnya. Dan saya hanya bisa berkali-kali mengingatkan mereka untuk minum air putih yang banyak, jangan kopi lagi. Saya tak mampu jika harus bertanggungjawab atas kesehatan 2 orang tuna kekasih ini. Tak bisa membayangkan mereka jatuh sakit saat tak ada kekasih yang bisa membuat mereka minimal merasa sedikit lebih baik dengan keberadaannya. Oh maaf, Alfin punya pacar, tapi jauh tinggalnya, jadi ya anggap saja tetap sulit merasakan kasih sayangnya secara riil. [pardon my language]

Siang harinya di tengah kesibukan saya berperan sebagai ibu, saya terus melakukan cross check pada Alfin apakah naskah kami sudah masuk ke percetakan atau belum. Dan alhamdulillah, tepat smenjelang maghrib Alfin mengabari saya bahwa naskah sudah masuk dan akan segera menjalani proses pencetakan. Bentuk terima kasih seperti apa lagi yang harus saya berikan kepada mereka berdua yang luar biasa. Lemah teles yo cah, Gusti Alloh sik mbales.

Sudah hampir satu setengah halaman saya menuliskan kisah ini dan ini baru mencapai sedikit bagian dari yang ingin saya ceritakan. Selanjutnya saya akan menceritakan bagaimana pengorbanan dan drama semua personil NDC untuk persiapan pementasan di launching acara buku kami. NDC yang beranggotakan 6 orang perempuan dan 1 orang laki-laki tulen yang mengaku konsisten mencintai perempuan. Memang kebetulan anak-anak ini hampir semuanya belum punya pengalaman membacakan karya, entah itu puisi, cerpen, prosa atau apapun. Dan saya mau tak mau harus lebih giat meracuni mereka agar yakin bahwa mereka mampu melakukannya. Toh yang akan mereka bacakan adalah karya-karya mereka sendiri. Yang semestinya mereka tahu betul “feel” dari tulisan tersebut karenanya. Jadi tak akan banyak menemui kendala dalam membacakannya kepada khalayak.

Singkat cerita, saya meminta romo Nasarius Sudaryono yang seorang penggiat pertunjukan dan sudah sering melakukan reading bersama saya dalam beberapa produksi film indie sebelum ini, untuk membimbing teman-teman NDC belajar membaca. Saya buatkan satu group wa lagi yang khusus untuk kami dan Romo melakukan komunikasi jarak jauh, karena hingga tulisan ini diturunkan hal ini masih belum memungkinkan untuk dilakukan melalui telepati. Saya meminta kawan-kawan untuk mengrimkan voice note latihan pembacaan mereka di sini. Dan itulah luar biasanya Romo, yang walau (mungkin) sakit telinga mendengar cara kami membaca tapi tetap memberikan masukan berupa sanjungan yang membuat kami semakin pede dan terus memperbaiki bacaan kami.

Hingga tanggal 9 Maret 2018, kawan-kawan dari luar kota seperti Kediri, Semarang, Sidoarjo, Malang dan Jakarta mulai berdatangan. Mereka saya paksa untuk tak usah mencari kamar hotel dan tidur di rumah saya. Sebelumnya saya sudah meminta izin ke mereka karena di tanggal 9 ada pekerjaan, jadi saya serahkan kunci rumah pada mereka agar mereka bisa memaksimalkan latihan di rumah saya bersama Romo selama saya bekerja. Selesai kerja saya langsung pulang karena tak enak sudah memohon-mohon pada Romo untuk menunggu saya sebentar agar saya bisa melakukan latihan secara riil seperti yang lain. Jam 11 malam saya sampai rumah, dan dengan sisa-sisa tenaga yang masih saya punya, saya membacakan karya yang akan saya bacakan keesokan harinya, satu kali saja. Dikoreksi di beberapa bagian oleh Romo dan baru bisa mengobrol enak dengan semuanya setelahnya.

Sepeninggalan Romo, kami tak juga berangkat tidur walau lelah menumpuk sejak pagi belum rebah. Perempuan-perempuan luar biasa tamu saya ini masih saja “iyik” dengan pertimbangan “BESOK PAKAI BAJU APA???” yasalam. Akhirnya dikeluarkannya semua baju yang rencananya mereka kenakan di acara besok. Walau akhirnya hampir semua yang mereka bawa tak terpakai dan saya memberikan alternatif lainnya untuk mereka. Dan mereka bahagia. Lalu kami pergi tidur saat adzan subuh hampir berkumandang. (bagian terakhir ini sungguh salah, mohon jangan ditiru ya teman-teman)

Sabtu pagi pukul 7.30 (hampir) semuanya sudah bangun. Saya segera bersiap pergi karena harus melaksanakan tugas sebagai ibu dulu pada anak saya yang kebetulan hari itu ada GR untuk lomba drumband. Saya pasrahkan semua persiapan di lokasi pementasan pada 6 orang anggota NDC yang lain dan baru bisa bergabung lagi dengan mereka sore harinya. Entah tuan rumah macam apa saya ini. Tapi alhamdulillah mereka adalah kawan-kawan yang luar biasa dan hanya dengan komunikasi dengan hp saja mereka bisa menyelesaikan semuanya.

Sabtu, 10 Maret 2018 pukul 16.25

Setelah berjuang menembus kemacetan Jogja di Sabtu sore, saya berhasil sampai di KKF dengan sedikit lelah dan banyak ngos-ngosan. Tak enak rasanya pada kawan-kawan saya karena jam segitu saya baru bisa berkumpul lagi dengan mereka. Kami mulai makeup bersama-sama dan saling membantu satu sama lain. Mereka yang ribut dengan pemakaian bulu mata palsu sungguh menjadi hiburan bagi saya yang sedikit kelelahan. Sambil makeup saya menyempatkan mengobrol dengan Mia (MC cantik untuk acara kami) untuk membahas rundown acara secara lebih detail. Memberikan alternatif kata-kata yang bisa dia pakai untuk membuka dan menjelaskan tentang semuanya pada hadirin malam nanti.

Sabtu, 10 Maret 2018 pukul 18.00

Dari tujuh orang personil NDC cuma saya yang memutuskan untuk tidak mandi sebelum acara sore itu. Mohon maaf sebelumnya, karena saya tak menyiapkan peralatan mandi yang biasa saya gunakan. Dan ini hal remeh yang sungguh sulit untuk saya lakukan. Masing-masing dari kami mulai disibukkan dengan persiapan acara. Beberapa tamu yang merupakan kawan dekat kami mulai berdatangan. Sepertinya memang sengaja datang lebih awal agar bisa mengobrol dulu barang sebentar sebelum acara dimulai.

Saya mengobrol dengan mas Doni yang saya minta mengiringi pembacaan saya dengan permainan biolanya. Karena kesibukannya yang luar biasa dan kesibukan saya yang biasa-biasa saja tapi sering agak tak kira-kira maka kami baru sempat membahas ini beberapa jam sebelum acara. Sungguh jangan ditiru jika orang yang kalian pasrahi tak benar-benar seorang profesional dalam hal ini. Dan mas Doni ini adalah salah satu orang yang saya jelaskan lima menit saja sudah bisa mengaplikasikan apa yang saya minta. Terima kasih saya tak terhingga untuknya.

Sabtu, 10 Maret 2018 pukul 19.50

10 menit sebelum acara dimulai saya mengumpulkan semua teman-teman NDC dan pengisi acara. Saya memberikan beberapa kata penyemangat untuk mereka yang sebenarnya sudah sangat siap dengan materi yang akan mereka tampilkan. Karena Romo Nasar sempat mengabari tidak bisa hadir di acara kam,i membuat kami sungguh bersedih, tapi kami tetap harus melakukan yang terbaik untuk ini. Saya memimpin doa bersama dan melakukan “toss” bersama sebagai penutup. Betapa bahagia saya melihat kobaran api semangat di mata mereka. Dan entah kenapa saya yakin acara akan berjalan sesuai dengan yang sudah kami rencanakan.

Tepat pukul 20.00 mba Susi membuka acara dengan pembacaan puisi pendek miliknya sambil berjalan tenang dari belakang ke arah depan penonton. Koordinasi lampu dari gelap menuju terang membuat opening acara jadi cukup dramatis dengan puisi yang dibacakan oleh mba Susi. Penonton yang tenang sekali sejak awal pun bertepuk tangan tepat saat mba Susi selesai membacakan puisi dan disambut oleh MC cantik kami Mia dengan openingnya.

Ada yang bergetar di dada saya sejak tepuk tangan pertama. Mempertegas keyakinan akan acara yang akan berjalan lancar hingga akhir nanti. Acara dilanjutkan dengan bedah buku yang diisi oleh Alfin Rizal dan Bernado Bjeben. Semua berlangsung lancar, beberapa gangguan yang terjadi seperti mic yang tak nyala pun jadi tak berarti melihat performa kawan-kawan dengan bacaannya yang luar biasa.

Lalu tiba-tiba ada seorang tamu yang datang di sekitar pukul 21.45. Romo Nasar reading coach yang kami sayangi datang! Ini bahagia yang sempurna bagi kami bertujuh. Beliau memilih duduk di bagian belakang sambil menikmati pertunjukan yang masih berlangsung, Dan karena saya mendapat giliran terakhir membaca saya menemani Romo duduk di belakang penonton. Saya yang tak sempat mengikuti proses latihan teman-teman dengan Romo mendapatkan banyak kejutan dari pembacaan malam itu. Saya ceritakan ke Romo betapa saya ternganga menyaksikan cara mba Geriel membaca. Terpana dengan  logat anak-anak yang dimiliki mba Sitra tapi tak mengurangi keindahan bacaannya. Termangu dengan bacaan mba Gusti Hasta. Tertohok dengan bacaan mba Susi. Dan terdiam dalam senyum dengan bacaan mba Irza. Semuanya luar biasa dan Romo senang sekali mendengarnya.

Hingga tibalah giliran saya membaca. Saya membacakan tulisan saya di buku SMJ bab Selingkuh: The Universe Conspires Against Me. Sejak pertama memutuskan akan membaca tulisan itu hingga waktu pentas saya hanya berlatih sebanyak 2 kali. Itu pun yang pertama tidak sampai selesai. Bukan karena malas atau tak ada waktu, tapi sebanyak 2 kali itu pula saya tak mampu menahan air mata yang hampir jatuh di tengah pembacaan. Itu saja.

Benar saja, saat pementasan yang saya harapkan sejak awal hanyalah saya bisa mampu menyelesaikan The Universe Conspires Against Me hingga sampai selesai. Entah kenapa TUCA begitu menguras rasa ketika dibacakan, terutama bagi saya sendiri yang menuliskannya. Ah, tapi mungkin memang dasar saya saja yang terlalu cengeng sehingga begitu mudah menitikkan air mata hanya karena membaca. Anggap saja begitu, karena kalau mau dibilang dalam, tulisan saya ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan tulisan teman-teman Dasters lainnya.

Akhirnya setelah setengah mati menahan air mata yang menumpuk di pelupuk mata, saya berhasil menyelesaikan membaca TUCA sampai tuntas. Sedikit terisak dan berhenti di beberapa bagian pembacaan saya rasa tak begitu masalah tapi justru menjadi “jeda” manis dalam pembacaan itu sendiri. mungkin lain waktu saya akan menuliskan tentang bagaimana dan mengapa “jeda” itu perlu dalam sebuah pembacaan karya. Doakan saja saya mampu menuliskannya. Bukan untuk mengajari tapi lebih untuk berbagi bagi kawan-kawan yang memang menyukai membaca karya baik cerpen maupun puisi.

Dengan selesainya pembacan dari saya maka selesai pula lah rangkaian acara peluncuran buku Syak Merah Jambu. Endro Gusmoro yang jadi satu-satunya anggota NDC laki-laki tidak ikut membaca karena merasa belum siap dan berjanji akan ikut membaca di lain waktu. Dia sudah menepati janjinya di acara Malam Minggu Merah Jambu, Menyeduh Cinta Tanpa Gula yang kami selenggarakan di Kediri 24 November 2018 lalu.

Terima kasih tak terhingga kami ucapkan kepada banyak pihak yang telah membantu terselenggaranya peluncuran buku SMJ. Alfin Rizal, Bernado J Sujibto, Al Farisi, room Nasarius Sudaryono, Yopie Kurniawan, Kedai Kebun Forum dan masih banyak lagi yang tak dapat kami sebutkan satu persatu. Masih banyak kekurangan dalam buku SMJ. Kami mohon doanya awal 2019 ini akan lahir adik kandung dari SMJ, semoga semua proses kelahirannya dilancarkan dan kami dimampukan berbagi banyak hal yang tak kalah mendebarkan dalam buku kedua nanti.

Rabu, 05 September 2018

Kau Tak Menepati Janjimu


Hari mulai siang. Dia baru saja menyelesaikan sarapan di resto hotel tempatnya menginap, sendiri. Kaca mata hitam tak lepas dari wajahnya sejak keluar dari kamar. Dia mengenakan baju hitam polos berukuran oversize agar tak begitu menarik perhatian orang. Sengaja baru mulai sarapan pukul 9 dengan tujuan agar resto sudah tak terlalu ramai tamu. Dia sedang sangat tak ingin berbasa-basi atau merasa kerepotan dengan sorot mata orang-orang yang selalu saja memandangnya di mana pun dia berada.

Dia meraih HP, membuka beberapa email yang masuk dan membalasnya satu persatu yang memang memungkinkan dibalas melalui HP, selebihnya dibiarkan karena dia membutuhkan laptopnya untuk beberapa file yang harus dikirim. Tak ada senyum di wajahnya sejak dia duduk di resto. Hanya datar dan sedikit pucat. Entah lelah atau kurang tidur yang menjadi penyebabnya.
Seorang pelayan resto mendatanginya dan menawarkan pilihan teh dan kopi, “Americano, please”, jawabnya singkat tanpa melihat ke arah si pemberi tawaran. Matanya masih sibuk memandang HP. Membuka beberapa pesan yang masuk di aplikasi whatsapp yang dibiarkannya sejak semalam. Beberapa pesan tak begitu penting dan tak digubrisnya. Namun wajahnya sedikit cerah saat membaca sebuah pesan dari seseorang yang diberi nama Honey di kontaknya. Tak lama pelayan datang membawakan secangkir Americano pesanannya. Dia mengucap terima kasih lagi-lagi tanpa menoleh kepada si pelayan.

Setelah selesai membalas pesan diraihnya cangkir berisi kopi yang masih panas dan didekatkan ke hidungnya. Dicarinya wangi kopi yang seharusnya ada di sana. Satu kali tak ketemu. Dicobanya lagi kali kedua, tak juga ada. Yang ketiga dipejamkan matanya dan menghirup lebih dalam uap dari cangkirnya. Tetap tak ada. Kecewa memenuhi pikirannya dan seketika diletakkannya lagi cangkir itu ke tatakan dengan sedikit membanting hingga menimbulkan bunyi yang cukup menyita perhatian para pelayan dan beberapa orang yang berada di resto. Kopinya berhamburan mengotori taplak putih. Dia tak peduli dan segera beranjak dari resto dengan bersungut-sungut. Sesaat sebelum keluar dari pintu resto, dengan ketus ia berkata pada petugas hotel yang berjaga di pintu resto, “Lain kali tak usah menawarkan kopi jika aromanya saja kalian tak punya!” dan berlalu meninggalkan si petugas yang wajahnya memucat seketika.

Sesampai di kamar ia menyalakan laptop dan memutar playlist System Of A Down dengan volume yang hampir menyentuh batas tertinggi. Tak dipikirkannya hal ini akan mengganggu tamu hotel lainnya. Ia merebahkan tubuhnya dan membuka channel youtube miliknya. Diperhatikannya satu per satu konten yang telah terunggah di sana. Dalam beberapa menit wajahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya. Dia tetap tak membuka kaca mata hitamnya hingga membaca sebuah komen dari netizen di sana. Dahinya berkerut dan tiba-tiba saja tertawa sangat keras sambil mengumpat, “Dasar netizen tolol!”

Waktu menunjukkan pukul 13.23. Di luar hujan mengguyur deras dan petir ikut memeriahkan suasana. Dia hampir saja tertidur saat tiba-tiba sebuah pesan masuk ke HPnya. Awalnya hanya dilihat sekilas saja dari layar standby di HPnya, namun kemudian segera membukanya saat tahu pesan masuk itu dari Honey. “Maaf sayang, sepertinya aku akan sedikit terlambat menjemputmu karena rapatnya sedikit alot. Kamu jangan ke mana-mana ya, tunggu di hotel saja. Do spa or whatever, just make yourself comfortable while I finish my work. Love you xo”

Tiba-tiba ia merasakan mual yang teramat sangat di perutnya. Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh sarapannya di toilet. Mukanya lebih pucat lagi sekarang. Garis hitam semakin terlihat di bawah matanya yang tampak lelah. Setelah mencuci muka dan membersihkan diri ia meraih air soda dari dalam lemari pendingin dan ditenggak hingga habis tanpa jeda. Dirasakan debar di dadanya begitu tergesa-gesa. Tak lagi mampu menganalisa marah atau kecewa yang sedang dirasakannya, mungkin juga kedua-duanya.

Ia berganti baju dengan gaun pesta berwarna hijau daun yang membuatnya jadi sangat anggun. Mematut-matut diri di depan cermin dengan make up yang cukup tebal dan membubuhkan pewarna bibir berwarna merah menyala. Wajahnya kini tampak cantik namun terkesan angker karena mimiknya yang begitu tak bersahabat. Tak ada senyum di sana. Mengenakan stiletto berwarna keemasan, meraih tas kecilnya dan segera pergi meninggalkan kamar.

Pukul 15.11 di luar masih hujan dan dia sama sekali tak punya tujuan. Dia tak tahu apa-apa di kota yang baru pertama kali didatanginya itu. Di lobby seorang petugas hotel menyapanya dan menawarkan jasa taxi tapi tak dihiraukan dan dilaluinya begitu saja. Sesampai di depan pintu utama langkahnya terhenti. Wajahnya cantik namun matanya tampak kosong dan penuh kesedihan. Tak lama ia segera melangkahkan kakinya menerobos hujan deras yang menggelapkan langit kota. Beberapa petugas hotel buru-buru mencari payung untuk disusulkan kepadanya. Tapi saat mereka berada di sebelahnya, ia hanya menoleh dengan tatapan tajam yang dingin dan tanpa senyum sama sekali hingga membuat sang petugas ciut nyali lalu mundur kembali.

Sore sekitar pukul 17.00

Seorang pria tampak gelisah di resepsionis hotel. Setelah menanyai hampir semua petugas hotel dan menyebutkan ciri-ciri seorang perempuan yang dicarinya ia hanya mendapat info bahwa perempuan itu pergi mengenakan gaun berwarna hijau daun. Ia tak berhenti menelpon dengan telepon genggamnya. Berkali-kali namun tak ada jawaban. Dia hampir putus asa saat tiba-tiba muncul ide untuk melacak keberadaan nomor yang sejak tadi diteleponnya. Dapat! Lokasinya tak begitu jauh dari hotel tersebut, sekitar 10 menit untuk menujunya menggunakan mobil. Sempat berpikir untuk memakai jasa ojek namun hujan masih turun dengan derasnya.

Segera dipacunya mobilnya mengikuti arah peta google yang menunjukkan keberadaan nomor yang ia tuju. Ia bersyukur pernah membuat setelan penghubung antara nomornya dengan nomor yang ia tuju. Tanpa seizin si pemilik nomor tentunya, tapi ini ia lakukan untuk menghadapi kondisi darurat seperti saat ini. Jalanan sedikit padat karena memasuki jam pulang kantor dan hujan. Sudah sekitar 10 menit waktu yang ia tempuh namun jarak yang ia tuju masih sekitar 4,5 kilometer lagi. Ia gundah tapi tetap berusaha tenang, matanya tak berhenti menyisir jalanan yang ia lalui. Mencari-cari tanda keberadaan orang yang ia cintai.

Ketika jarak sudah semakin dekat ia pelankan laju mobilnya dan berusaha melihat di sisi kiri dan kanan jalan dengan lebih seksama. Hujan yang semakin deras mengaburkan kaca dan ini mempersulit penglihatannya. Hari mulai gelap dan kekhawatirannya semakin menjadi. Hingga di titik yang menunjukkan bahwa ia telah sampai di lokasi yang ia tuju, ia pinggirkan mobilnya dan melihat ke sekitar dari dalam mobil. Hanya ada sebuah kedai kopi dan beberapa working space di dekat sana.
Ia putuskan untuk memarkir mobil dan berjalan menuju kedai kopi kecil yang tampak hangat di waktu hujan begitu. Saat masuk ia segera menuju ke meja barista yang menyapanya dengan ramah.

“Maaf mas, apakah tadi ada seorang perempuan yang kemari mengenakan gaun berwarna hijau sendirian?”

Sang barista mencoba mengingat sebentar lalu berkata, “Oh, ada mas. Dia duduk cukup lama di sini tadi tapi saya tak yakin ia sedang menunggu seseorang. Kami sempat khawatir karena kondisinya basah kuyup. Sepertinya ia berjalan di tengah hujan deras seharian ini. Maaf, mas ini…?”

Si Laki-laki hampir melompat mendengar keterangan si barista. Merasa menemukan titik terang dan melanjutkan, “Ok, di mana dia sekarang?” Tak dijawabnya pertanyaan si Barista.

“Dia pergi beberapa menit lalu, mas. Dia belum membayar kopi yang ia pesan. Tapi kami juga tak tega mau memintanya walau sangat mungkin kami lakukan karena ia berjalan begitu pelan. Toh tak disentuhnya sama sekali Americanonya sejak kami sajikan, hanya dihirup-hirup uapnya sampai kopi itu dingin. Kami sempat menawarkan jika ia membutuhkan sesuatu untuk menghangatkan badannya yang basah kuyup, tapi tampaknya ia sedang sangat tak ingin diganggu jadi kami tak menanyainya lagi”, jelas sang Barista.

Si Laki-laki yang tadi merasa sedikit tenang kembali gelisah. Ia keluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan kembali bertanya, “Dia berjalan kaki lagi ya mas? Menuju ke arah mana?”
“Seingat saya ia berjalan menuju selatan, mas. Keluar dari pintu ini ke kiri. Maaf mas, tak usah membayar tidak apa-apa”

Lelaki itu tak menghiraukan sang barista dan meninggalkan saja uang yang sudah ia keluarkan di mejanya lalu segera keluar menuju ke arah yang diberitahukan sang barista dengan berjalan kaki menggunakan payung. Hujan yang tadi sudah sempat berkurang kini deras kembali. Hari sudah gelap dan ia terus berjalan penuh kekhawatiran mencari wanita yang begitu dicintainya. Berharap perginya belum terlalu jauh dari sana.

Sekitar 500 meter berjalan, ia menemukan sepasang sepatu yang ia kenali tergeletak tak beraturan di trotoar. Hatinya mengatakan bahwa keberadaan si wanita tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Diraihnya sepatu itu dan berjalan sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Mestinya dia bisa menyusulnya jika lebih bergegas.

Hujan kembali mereda. Samar-samar ia melihat sosok perempuan berjalan gontai sendirian beberapa ratus meter di depannya. Ia kini sedikit berlari walau itu cukup sulit karena ia membawa payung untuk melindungi diri dari hujan yang sudah mulai rintik namun tetap membuat basah jika tak memakai pelindung.

Setelah cukup dekat, diperhatikan dengan lebih seksama sosok perempuan yang ada di depannya. Tubuhnya basah kuyup dari ujung kepala hingga kakinya yang sudah tak beralas apa-apa lagi. Melihat hal itu dia semakin yakin bahwa perempuan inilah yang dicarinya sejak tadi.

Jalannya sudah tak karuan dan tidak di atas trotoar melainkan di jalan aspal dan tak lagi bisa dibilang di bagian pinggir. Menyadari hal itu ia segera melempar payungnya dan berlari ke arah si perempuan. Di saat yang sama sebuah motor yang pengemudinya sedang mencoba menajamkan pandangan karena matanya kemasukan air sudah lebih dulu mencapai tempat perempuan tadi dan menabraknya dari belakang.

Si Laki-laki yang melihat kejadian itu di depan mata berteriak sebisa-bisanya dan segera menghampiri si perempuan yang kini telah tergeletak tak berdaya dengan gaun hijau daunnya. Diletakkannya kepala si perempuan di atas pangkuannya dan diusap-usap wajahnya sambil menangis dan berusaha menyadarkannya.

“Sayangku.. Sayangku.. Buka matamu, sayang. Aku datang menjemputmu tadi, tapi kau sudah pergi lebih dulu. Terlambatku tak selama yang kau kira, hanya beberapa menit dari yang kujanjikan sebelumnya. Kenapa kau tak menjawab, sayang? Sayangku…”, ia mulai sesenggukan dan kini memeluk kepala si Perempuan. Jalanan dipenuhi banyak orang yang berhenti melihat kejadian itu. Orang-orang berkerumun dalam hujan mengelilinginya

Tak lama dirasakan tangan perempuan itu memegang bagian belakang kepalanya. Dia segera tersadar dan dilihatnya si perempuan mulai berusaha membuka mata. Wajahnya lebih pucat dari lampu jalanan yang berdiri sendirian di tengah hujan.

“Sayang, kau bisa mendengarku kan? Kau tak apa-apa kan?”, tanyanya kemudian penuh kekhawatiran

Si Perempuan tampak sedang berusaha berbicara walau matanya setengah terpejam, “Kenapa kau tak menepati janjimu? Apakah aku tak cantik lagi bagimu setelah perutku mulai membesar begini?”

Si Laki-laki yang masih belum sembuh dari traumanya melihat kejadian itu refleks memegang perut si perempuan yang memang terasa sedikit lebih besar. “Tidak, sayang. Kau yang terbaik buatku. Aku minta maaf karena telah membuatmu merasa tak berarti dengan terlambat datang tadi. Seandainya kau mau menunggu, aku hanya terlambat tak lebih dari sepuluh menit, tak selama yang kuperkirakan. Maafkan aku, sayangku”, kata si Laki-laki mulai sesenggukan.

“Aku membenci diriku sendiri karena tak lagi kau cintai”, balas si Perempuan. Beberapa orang berusaha menolong dengan memberhentikan kendaraan yang lewat agar bisa segera membawa korban ke rumah sakit terdekat. Sedang si pengendara motor sudah lebih dulu dibawa ke rumah sakit oleh kendaraan lain.

Saat akhirnya ada kendaraan yang mau berhenti untuk dimintai tolong, orang-orang segera mendekati si Perempuan untuk segera mengangkatnya, namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Perempuan itu berteriak marah-marah dan memaki semua orang yang ada di sana. Ia menolak ditolong dan mengancam akan membunuh siapa saja yang berusaha menolongnya.

Si laki-laki yang paling paham dengan kondisi perempuannya segera meminta orang-orang untuk mundur dan menjauhi mereka sambil memeluk si Perempuan, berusaha menenangkan. Lalu berkata pelan, “Sayang, kita ke dokter ya. Ada 2 nyawa yang teramat penting bagi hidupku dan aku tak akan pernah memaafkan diriku jika sampai terjadi hal yang buruk pada keduanya. Mari..?”, sambil berusaha membangunkan tubuh si Perempuan agar bisa digendongnya.

Lagi-lagi si Perempuan menjawab dengan berteriak, “Bagus jika kau tak bisa memaafkan dirimu nantinya. Supaya kau tahu seperti apa rasanya menjadi aku yang tak lagi kau cintai. Aku mau mati sajaaaaaa…!!!!”. Tubuhnya menggigil karena hujan.

Si Laki-laki terdiam, tak tahu lagi harus bagaimana. Semua orang yang berdiri mengelilingi mereka pun terdiam, bingung bercampur iba melihat si Laki-laki yang kehabisan kata-kata dan si Perempuan yang entah kenapa begitu keras kepala dan seolah tak mau memikirkan janin yang ada dalam kandungannya. Hujan kembali menderas, air mata berhamburan berbaur dengan tetes hujan yang ribuan. Hingga akhirnya si Laki-laki menggendong paksa perempuannya dengan dibantu beberapa orang yang ada di sana.

Sayup dari kedai kopi terdengar suara seorang perempuan yang meronta, “Biarkan aku mati!”

Senin, 30 Juli 2018

Mimpi


“Yah, mungkin tidak kita tidak melakukan kesalahan sama sekali dalam sebulan?”

“Sangat tidak mungkin, nak”

“Mmmm… kalau seminggu, Yah?”

“Tidak mungkin”

“Kalau sehari, Yah?

“Itu pun sangat kecil kemungkinannya”

“Kalau satu jam?”

“Hmmm… Mungkin bisa..”, jawab sang Ayah menggantung dan sedikit ragu

“Oke, kalau gitu kita mulai dari satu jam saja dulu. Kita jaga diri sebaik-baiknya supaya tidak melakukan kesalahan ya, Yah”

Sang Ayah tersenyum melihat semangat anaknya yang ingin berusaha untuk tidak melakukan kesalahan. Ada yang menggelayut di hatinya. Kekhawatiran-kekhawatiran yang entah dari mana asalnya dan untuk apa atau siapa. Dipandangnya anak laki-laki semata wayang yang kini berusia enam setengah tahun itu. Dia sibuk bermain dengan mobil-mobilan dari sepah pohon pisang yang dibelikan Ayahnya sepulang kerja kemarin.

Si Anak yang sebentar lagi masuk SD sering sekali mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sering membuat sang Ayah kebingungan menjawabnya. Seperti beberapa waktu lalu si Anak bertanya, “Yah, malaikat Izrafil itu kan tugasnya meniup terompet Sangkakala waktu kiamat nanti. Lalu apa yang dia lakukan selama belum kiamat seperti sekarang ini ya, Yah?” Sang Ayah hampir pucat mukanya mendengar pertanyaan yang bahkan terpikirkan pun tidak olehnya.

Atau di lain waktu si Anak bertanya, “Yah, kenapa Tuhan Yang Maha Baik menciptakan orang jahat? Kenapa Tuhan tidak menciptakan orang baik saja?” Tak jarang sang Ayah harus membuka internet atau mencari-cari rekomendasi jawaban dari teman-temannya untuk pertanyaan-pertanyaan anaknya.
Tapi semua pertanyaan itu tak pernah ada apa-apanya dibanding sebuah pertanyaan yang sang Ayah tahu betul jawabannya, namun tak mampu untuk memberi tahu si Anak. “Yah, kenapa Ibu pergi meninggalkan kita?” Habis hatinya jika si Anak mulai menanyakan hal itu yang tentu tak sekali dua saja muncul di kepalanya. Ditambah air muka Anaknya yang meluluhkan hati saat menanyakannya.
Anak semata wayangnya ini selalu mengingatkannya pada Istrinya. Matanya yang tajam. Kulitnya yang bersih. Dan tentu saja kecerdasan pertanyaan-pertanyaannya yang sering membuat sang Ayah lemas memikirkan jawabannya.

Dua tahun lalu sang Istri meninggalkan mereka. Di suatu sore yang hangat, sang Istri pergi tanpa berkata-kata lagi. Malam sebelumnya sang Istri bertengkar hebat dengannya. Tak kan pernah dilupakannya peristiwa itu. Bagaimana si Anak yang saat itu baru berusia empat tahun menangisi kepergian Ibunya sambil menarik-narik bajunya mencoba mencegahnya pergi. Sang Ayah hanya bisa pasrah. Dia tahu kenapa Istrinya melakukan itu. Dan tahu apa atau siapa pun tak kan bisa mencegah jika Istrinya sudah menetapkan sesuatu.

Tiba-tiba si Anak membuyarkan lamunannya. “Yah, sekarang sudah satu jam belum?”

Sang Ayah tersenyum sambil melihat ke jam tangannya, “Belum, nak. Baru setengah jam”

“Wah, sudah setengah jam ya? Dan kita belum melakukan kesalahan apa-apa lho, Yah. Pasti kita bisa tidak melakukan kesalahan sama sekali dalam satu jam ya, Yah?”

Sang Ayah berusaha tersenyum sambil mengelus kepala Anaknya, “Kita lihat saja. Ini masih separuh jalan. Kita masih harus berusaha kan?”

Si Anak kembali bermain, kini berpindah di rerumputan yang ada di halaman. Sang Ayah memperhaikan saja dari tempatnya duduk sambil menikmati teh hangat yang dibuatnya sendiri tadi. Tunggu, menikmati? Ah, menikmati mestinya untuk sesuatu yang benar-benar terasa nikmat saja. Teh buatannya ini tak pernah seenak teh buatan Istrinya dulu. Biasanya sore begini sang Istri membuat dua cangkir teh untuk mereka nikmati berdua di halaman. Sambil mengobrol dan menemani si Anak bermain. Dan memang benar nikmat rasanya. Maka ini lebih tepat jika disebut minum teh saja. Bukan menikmati.

Tiba-tiba dadanya terasa berat. Ingatan yang datang tentang Istrinya selalu membawa rasa seperti itu padanya. Rasa yang dia sendiri kesulitan mengartikannya. Entah rindu entah dendam yang dia rasakan. Dia sendiri tak berani mencari jawabannya. Disandarkannya badannya yang kini terasa begitu lelah.

Si Anak mendekatinya dan bertanya, “Ayah kenapa? Ayah capek?”

Sang Ayah tersenyum walau tampak getir. “Tidak, Ayah cuma senang melihat anak Ayah sekarang sudah semakin besar”, katanya berbohong pada Anaknya untuk menutupi kegelisahan.

“Yah, sekarang sudah satu jam belum?”, tanya Anaknya.

“Sebentar lagi, nak. Tujuh menit lagi tepat satu jam dari kita memulainya tadi. Kenapa?”

“Barusan aku tak sengaja menginjak bekicot, Yah. Rumahnya sampai hancur. Aku gagal tidak melakukan kesalahan sama sekali dalam satu jam, Yah. Tapi Ayah harus berhasil ya, tujuh menit tak lama kan, Yah?”, kata si Anak tetap bersemangat walau kecewa karena kegagalannya.

Sang Ayah mendadak pucat dan merasa bersalah karena dia sudah berbohong pada Anaknya tadi. Walau itu dilakukannya agar tidak membuat Anaknya khawatir. Baginya itu tetap dihitung sebagai sebuah kesalahan, meski terpaksa ia lakukan.

Minggu, 29 April 2018

Semenit Bersama Sang Bintang



Siang itu cuaca cerah. Semua orang bahagia menyambut hari yang sudah dinanti-nanti. Lima orang terpilih sudah berkumpul di tempat yang sudah disediakan. Mereka dipilih dengan seleksi super ketat melalui beberapa tahap yang tak seorang pun dari mereka menyebutnya mudah.

Sebuah ruangan berukuran 100 x 125 meter persegi dengan pendingin ruangan yang dipasang dengan jarak 2 meter satu sama lain dengan tambahan AC central, masih tak terasa begitu dingin bagi lima orang peserta dan kru yanga jumlahnya tak lebih dari dua puluh orang di dalamnya. Ruangan ini sengaja dibuat khusus untuk acara hari ini. Disiarkan secara langsung di semua stasiun televisi di dunia. Acara yang sangat penting dengan persiapan yang tak main-main.

Sekitar 30 menit lagi acara akan segera dimulai. Seluruh panitia yang juga orang-orang terpilih sibuk menyiapkan peralatan dan melakukan cek ulang untuk semua piranti baik keras maupun lunak yang sudah dipasang disana-sini. Seorang sutradara didampingi asisten sutradara dan floor director sedang menyelesaikan briefing akhir pada lima orang peserta yang sudah siap dengan bahan-bahan mereka.

Wawancara eksklusif ini mendatangkan Bintang Utama yang mendunia terkenalnya. Saking pentingnya Bintang Utama ini, dia tak mungkin datang langsung ke tempat acara berlangsung untuk melakukan wawancaranya. Wawancara dilakukan jarak jauh dengan perangkat elektronik yang super canggih dan telah dipersiapkan sedemikan rupa hingga minim gangguan.

Menjelang acara, semua orang bersiap di posisi masing-masing. Para peserta sudah duduk di meja setengah lingkaran menghadap ke sebuah layar raksasa. Ada 1 buah mikropon dan 1 buah laptop di hadapan setiap peserta sebagai alat mereka mengajukan pertayaan nantinya. Floor director sudah berada di posisinya dan menunggu aba-aba hitungan mundur dari sang sutradara yang hanya akan terdengar olehnya dari headset yang terpasang di telinganya.

Sutradara mulai memberi tanda dari master control room yang berada di bagian belakang ruangan dan dibatasi oleh kaca bening untuk memudahkan komunikasi dengan studio. Floor director menangkap tanda yang diberikan dengan mengacungkan jempolnya. Tak lama sang sutradara mulai menghitung mundur, “lima empat tiga dua satu”. Lalu muncul seorang Pembawa Acara di tengah-tengah antara meja peserta dan layar raksasa untuk membuka acara tersebut.

“Selamat siang, pemirsa. Selamat datang dalam acara yang sudah anda nanti-nantikan. Siang ini, bersama saya di studio sudah ada lima orang peserta terpilih yang sudah melalui beberapa kali proses seleksi ketat untuk bisa hadir dan berkesempatan bertanya langsung pada sang Bintang Utama. Dan sebelum prosesi tanya jawab, saya akan memperkenalkan peserta kita siang ini satu persatu”, kata Pembawa Acara membuka acara tersebut yang dilanjutkan dengan memperkenalkan para peserta yang terdiri dari tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan.

”Baiklah pemirsa, itu tadi peserta-peserta terpilih kita. Dan kini saatnya saya mengudang Bintang Utama kita untuk bisa bergabung bersama kita di sini”. Sesaat setelah mengatakan kalimat ini, di layar raksasa muncul video ilustrasi perjalanan luar angkasa dengan kecepatan yang sudah disulam sedemikian rupa hingga tampak begitu cepat. Semua mata terpana ke arah layar raksasa.

Mula-mula layar menampakkan gugusan bintang kecil yang ribuan banyaknya. Lalu melayang-layang melewati orbit planet-planet. Neptunus. Uranus. Saturnus. Yupiter. Mars. Berputar sepanjang orbit planet Bumi. Lalu menuju Venus dan dilanjutkan ke arah Merkurius. Saat menuju Merkurius kamera mulai mengurangi kecepatannya, semakin lambat hingga berhenti di atas Merkurius. Kamera yang dikendalikan dari jauh oleh ilmuwan-ilmuwan khusus ini telah dirancang sedemikian canggih hingga bisa berada maksimal di atas Merkurius untuk bisa menangkap gambar sang Bintang Utama dari sana.

Dengan gerakan yang anggun bak puteri yang menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya, penonton dibuat takjub pada gambar di layar raksasa yang menampilkan Merkurius kemudian melakukan pan atas menuju wujud sang Bintang Utama. Walau hampir setiap hari melihatnya secara langsung maupun dari televisi, namun sang Bintang Utama terlihat lebih mempesona dari sini, hari ini. Entah kenapa.

Bintang Utama tampak begitu tenang di tempatnya. Tak banyak bicara, bahkan bergerak pun hanya seperlunya. Bukan bergerak sebenarnya, tapi seperti seolah-olah bergerak yang disebabkan oleh panas intinya yang mendekati 15,7 juta Kelvin dan panas permukaan mencapai kurang lebih 5.800 Kelvin

Dia begitu anggun dan mengagumkan. Selama hampir 2 menit video berlangsung dan hampir semua orang dalam studio itu terdiam dengan mata ke arah layar raksasa semua. Hingga tiba-tiba sutradara berbicara di headset FD, memerintahkannya memberi tanda pada pembawa acara untuk meneruskan tugasnya. Sang FD terkesiap dan segera melambai-lambaikan tangannya pada pembawa acara agar dia segera tersadar dan melanjutkan acara ke sesi berikutnya. Beruntung Pembawa Acara melihatnya dan segera melanjutkan.

“Pemirsa, sang Bintang Utama telah hadir bersama kita saat ini. Anda bisa melihat keanggunannya. Dialah sang Bintang yang tanpanya entah akan seperti apa jadinya dunia kita. Saya akan menyapanya terlebih dahulu. Halo, apa kabar, Bintang Utama?”

Setelah pertanyaan itu dilontarkan, muncul bunyi kresek-kresek noise selama beberapa saat dari pengeras suara. Semua tim ahli yang telah disiapkan segera melakukan pengecekan pada semua perangkat yang ada. Sepertinya ada kendala yang membuat sang Bintang Utama tidak bisa memberikan jawaban dalam bentuk suara ke studio. Namun para ahli telah menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi hal ini, hingga jawaban dari Bintang Utama bisa dimunculkan dalam bentuk teks yang akan terlihat di layar raksasa.

“Baik, terima kasih”, jawabnya.

Semua orang merasa lega setelah tadi begitu tegang selama hampir satu menit tak mendapat jawaban suara apapun dari Bintang Utama. Dan Pembawa Acara segera melanjutkan lagi, “Ah, syukurlah. Baik, mengingat begitu sibuknya Bintang Utama, agar tak berlama-lama segera saja kita mulai sesi tanya jawab antara para peserta dengan Bintang Utama. Bintang Utama, apakah anda sudah siap?”, tanya Pembawa Acara.

“Ya, mulailah”, jawab Bintang Utama melalui teks di layar raksasa.

“Baik, silakan Peserta Pertama mengajukan satu pertanyaan saja seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya”, lanjut Pembawa Acara

Peserta Pertama yang tampak sedikit gugup mencoba tenang sebentar dan berdehem sebelum melontarkan pertanyaan. “Halo, Bintang Utama. Aku salah satu dari mungkin sedikit saja orang di dunia ini yang menyukaimu. Kebanyakan manusia lebih menyukai malam yang sejuk dari pada siang yang panas. Pertanyaanku, adakah kemungkinan para ilmuwan yang cerdasnya diatas rata-rata seperti yang saat ini membantu berlangsungnya acara ini, kelak bisa menemukan sumber energi lain yang bisa menggantikan energi seperti milikmu?”

Studio hening. Kursor di layar raksasa masih berkedip-kedip saja belum menampakkan satu huruf pun di sana. Selama hampir 20 detik layar raksasa kosong dan semua diam menanti jawaban dari Bintang Utama. Hingga akhirnya huruf-huruf mulai bermunculan di sana.

“Aku sangsi. Tapi, tak ada yang tak mungkin di dunia ini jika Tuhan memberi izin. Karena hidup dan matiku adalah milik Tuhan. Semua Tuhan yang menentukan. Telah tertulis dalam al Quran surat ar Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri”, bukan?”, jawabnya.

Semua tertegun. Tapi FD segera memberi aba-aba lagi pada Pembawa Acara untuk melanjutkan. “Wow, jawaban yang mengena. Terima kasih Bintang Utama untuk jawabannya” Seluruh isi ruangan bertepuk tangan setelah sempat tertegun dengan jawaban yang diberikan. “Selanjutnya giliran Peserta Kedua untuk bertanya, silakan”, kata Pembawa Acara

Peserta Kedua yang seorang perempuan tampak lebih tenang dari Peserta Pertama walau tak dapat menutupi seluruh gelisahnya. “Bintang Utama, apa yang kau lakukan ketika merasa gelisah karena sesuatu yang kau sendiri tak tahu? Kurasa kau tak boleh merasa begitu, bukan? Aku khawatir jika hal itu terjadi padamu, akan ada banyak kejadian buruk terjadi di dunia ini karena kondisimu yang boleh dibilang sedang tak stabil”

Kali ini Bintang Utama menjawab lebih cepat walau dengan jawaban pendek di awal, “: )” Lalu dia melanjutkan, “Apa kalian lupa fungsi dari doa?”

Semua orang masih menunggu lanjutan jawabannya. Namun setelah sekitar sepuluh detik berlalu, Bintang Utama hanya menambahkan, “Silakan Peserta Ketiga”

Pembawa Acara sedikit kaget karena Bintang Utama telah mengabil alih posisinya dalam acara ini secara tiba-tiba, namun tetap menyilakan Peserta Ketiga untuk segera bertanya.

“Ehm.. Pernahkan kau merasa iri pada manusia yang konon disebut-sebut sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna? Pernahkah punya keinginan untuk menjadi manusia saja?”, Peserta Ketiga menyegerakan pertanyaannya karena tak menyangka jawaban sang Bintang Utama untuk Peserta Kedua berupa pertanyaan yang dirasa tajam, minimal bagi dirinya sendiri.

“Itu sudah menjadi perasaan golongan Jin yang dikemudian hari disebut sebagai Jin Kafir. Untuk apa aku menginginkan sesuatu yang sudah menjadi milik atau hak makhluk lain? Dan apakah menurutmu perasaan dan takdir ciptaan Tuhan untukku ini tak cukup baik buatku sehingga kau menanyakan hal semacam itu? Sesulit itukah bersyukur menurutmu?”, lagi-lagi Bintang Utama mengakhiri jawabannya dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Ehm…”, Pembawa Acara segera mengambil alih lagi acara. Dia seperti tak mau kecolongan lagi seperti sebelumnya. Setelah semua orang selesai bertepuk tangan dia melanjutkan, “Baiklah, itu tadi pertanyaan dari Peserta Ketiga dengan jawaban luar biasa dari Bintang Utama. Selanjutkan silakan Peserta Keempat, pertanyaan anda”

“Halo, Bintang Utama. Kan banyak sekali manusia yang memakaimu sebagai perumpamaan dan sebutan bagi kekasih-kekasih mereka. Tak semua fisik dan sifat para kekasih itu sempurna tentu saja. Pemberi julukan itu bisa saja melebih-lebihkan karena begitu cintanya pada sang kekasih pujaan. Bisa saja dibalik itu mereka sesungguhnya brengsek dan bekhianat kemudian. Bagaimana perasaanmu?”

“……………………..bukan urusanku…………………..”

Peserta Keempat cemberut membaca jawaban Bintang Utama. Ada sirat kecewa di matanya. Tapi sesuai ketentuan, dia tak mendebat jawaban yang sudah diberikan oleh sang Bintang.

“Wah, benar juga jawaban anda, Bintang Utama”, kata Pembawa Acara sedikit terkekeh menanggapi jawaban sang Bintang. “Baiklah, kita masih mempunyai satu orang peserta terakhir. Silakan waktu anda Peserta Kelima”, lanjutnya.

“Bintang Utama. Apa yang kau lakukan untuk mengisi waktu luang?”

Belum selesai dengan pertanyaannya, tiba-tiba muncul tulisan di layar raksasa, “Bersinar”

Kursor berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Silakan lanjutkan pertanyaanmu yang terpotong jawabanku tadi”

“Oh, eh… Ehmm… Apa kau pernah merasa bosan dengan rutinitasmu itu? Tak adakah keinginan melakukan hal-hal lainnya?”, lanjut Peserta Kelima sedikit terbata karena tak menyangka Bintang Utama paham dia belum sampai pada pertanyaan intinya.

Bintang Utama tak segera menjawab. Hingga didetik keempat muncul jawaban di layar raksasa, “Pahamilah sami’na wa atho’na”

Sesaat setelahnya gambar di layar raksasa perlahan berubah. Kamera mundur dengan gerakan kembali melalui jalur persis seperti yang dilewati ketika datang tadi. Warna-warna bermunculan. Bintang-bintang kecil dan besar dilewati begitu saja tanpa disapa. Menjauh dan semakin jauh hingga cahaya itu tampak mengecil dengan bantuan efek kamera yang membuatnya sekecil titik hingga akhirnya menghilang.

Semua orang tertegun. Termangu karena tertampar oleh jawaban singkat yang dalam maknanya. Si Pembawa Acara masih tersadar akan tugasnya walau tak dapat menutupi pikiran-pikiran yang bermunculan dari matanya. “Pemirsa, demikian tadi Semenit Bersama Sang Bintang. Kiranya ada banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil sebagai umat manusia yang sering lupa dan lena akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Sampai jumpa”

Begitu selesai menutup acara, Sutradara melakukan hitung mundur lagi sebagai tanda berakhirnya acara keseluruhan. Sesampai di hitungan terakhir, Pembawa Acara segera melepas semua perangkat keras yang menempel di badannya dan menyerahkannya pada FD yang posisinya paling dekat dengannya. Dia melepas jasnya dan segera  meninggalkan lokasi dengan wajah gamang yang ditutup-tutupi. Para peserta masih saja duduk tertegun di kursi mereka. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Siang itu surya bersinar terang. Lebih terang dari biasanya. Dan hal ini begitu terasa bagi orang-orang yang hari itu menyaksikan Semenit Bersama Sang Bintang.


Jogja, 29 April 2018
Ditulis untuk Nyincing Daster Club tema #matahari



Jumat, 06 April 2018

Mawar Duri Lunak





Siang itu lengang. Angin berhembus pelan sekali. Sepagian hanya ada beberapa beberapa kendaraan melintas setiap menitnya. Tak seperti hari-hari biasanya yang begitu padat dan bising oleh bunyi mesin dan klakson dari kendaraan bermotor.

Ini adalah hari Sabtu biasa. Tak ada yang istimewa. Angka di kalender pun hitam warnanya. Tapi suasananya sungguh tak seperti Sabtu-sabtu biasanya. Seorang laki-laki menunggu toko dengan terkantuk-kantuk. Baru pukul 11.00 tapi rasa kantuk yang biasa datang sekitar pukul 14.00 hari ini datang tak sesuai jadwal, lebih awal.

Tepat dianggukan kepala yang tak mampu menahan kantuk ke 23, seorang Laki-laki Berbau Wangi memasuki toko yang ditandai dengan bunyi lonceng saat pintu toko dibuka. Laki-laki Penjaga Toko terkesiap dan segera berdiri menyambut seolah kantuk yang baru saja mendera tak pernah ada.

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”, sapa Laki-laki Penjaga Toko kepada pelanggan pertamanya di hari Sabtu yang biasa itu.

“Hai, saya mencari bunga Daisy. Apa kau menyediakannya?”, jawab Laki-laki Berbau Wangi

“Daisy..? Hmm.. Sebentar, sepertinya masih ada beberapa tangkai tadi”

Laki-laki Penjaga Toko segera menyibukkan matanya melihat seisi ruangan yang penuh dengan bunga dalam ember-ember berisi air. Saat seperti ini, pikirannya selalu saja teringat pada sebuah lagu anak-anak “Lihat ruanganku penuh dengan bunga. Ada yang merah dan ada yang putih. Setiap hari...” senandungnya selalu berhenti di kata itu. Entah kenapa dia selalu tersadar ada yang harus segera dia selesaikan selain bersenandung jika mengingat kata “setiap hari”.

Setelah menemukan bunga Daisy yang diacari konsumennya, dia segera berjalan ke tengah ruangan sebelah kiri untuk mengambilnya. “Tinggal ini yang kami punya, mas”, sambil mengangkat sejumlah Daisy yang tak begitu banyak jumlahnya.

“Masa cuma ini? Tak ada lainnya?”, kata Laki-laki Berbau Wangi
“Iya mas, maaf. Mobil suplier kami mengalami ban bocor di perjalanan menuju Jogja pagi tadi dan sampai sekarang belum ada kabar lagi. Mas butuh banyak memangnya? Biasanya Daisy hanya dijadikan bunga pendamping untuk hand bouquet dan ini cukup jika mas mau menambahkan jenis bunga lainnya.”

Laki-laki Berbau Wangi merasa sedikit kesal dengan sok tahunya Laki-laki Penjaga Toko. Dia yang sejak datang tak melepas kacamata hitamnya mendengus pelan dan berkata, “Memangnya salah jika saya hanya ingin membeli Daisy saja dalam jumlah banyak? Apa ada undang-undangnya bahwa Daisy hanya boleh dijadikan bunga pendamping bunga lainnya?”

Laki-laki Penjaga Toko sedikit kaget dengan jawaban Laki-laki Berbau Wangi. Tapi dia mencoba sabar. Dia pikir mungkin efek cuaca panas ini membuat manusia jadi lebih mudah marah dan itu biasa. “Oh, iya juga mas. Seingat saya sih belum keluar undang-undang yang mengatur soal jenis-jenis bunga dan penempatannya. Pemerintah kita selalu sibuk mengatur bermacam undang-undang yang bisa menaikkan pendapatan negara saja”

Laki-laki Berbau Wangi menaikkan alis kirinya mendengar jawaban tak bermutu dari Laki-laki Penjaga Toko. Oh, bukan tak bermutu, itu bermutu tapi rendah menurut Laki-laki Berbau Wangi. Melihat hal ini Laki-laki Penjaga Toko tersadar dia sudah melantur. Mungkin bukan melantur karena memang demikian adanya yang terjadi. Tapi melihat reaksi konsumennya begitu, dia segera menyadari bahwa bukan jawaban seperti itu yang dimaui konsumennya.

“Hmm... Bagaimana jika bunga lainnya saja, mas? Yang tak kalah cantik dengan Daisy juga banyak lho”, kata Laki-laki Penjaga Toko mencoba memberikan alternatif lain.

“Apa yang menurutmu lebih cantik dari Daisy?”

“Hmm.. Bagaimana dengan yang merah dan belum mekar sempurna ini? Sebut Saja Mawar”, kata Laki-laki Penjaga Toko dengan gaya pengucapan menirukan pembaca berita di TV

Laki-laki Berbau Wangi mendengus sambil melipat kedua tangannya di bawah dada seolah sudah menduga akan mendapatkan jawaban standar seperti yang baru saja didengarnya. Masih dengan kacamata yang tak dilepasnya sedari tadi yang menambah kesan mistis, eh misterius darinya, dia mengacungkan telunjuk kanannya memberi tanda untuk mendekat pada Laki-laki Penjaga Toko. Dengan sedikit ragu Laki-laki Penjaga Toko sedikit mendekatkan kepalanya ke arah Laki-laki Berbau Wangi, bersiap mendengarkan.

“Saya tahu ini malam minggu, dan seperti biasa bunga jenis Sebut Saja Mawar itu melimpah jumlahnya di toko-toko bunga seperti ini. Tapi apa kau tak punya alternatif bunga lain yang tak biasa? Mawar tanpa duri misalnya. Aku tak suka membeli sesuatu yang sering dibeli orang-orang pada umumnya. Kalau kau memang punya berapa pun harganya akan kubayar. Jangan pikirkan soal biaya. Uangnya ada, kau punya bunga apa selain Sebut Saja Mawar tadi?”

Laki-laki Penjaga Toko mulai sedikit kesal dengan pelanggannya kali ini. Pria berbadan tegap dan berbau wangi yang tak melepas kacamatanya sedari tadi itu mulai dirasa merepotkan. Dia sudah merelakan kantuk yang datang tak sesuai jadwal hilang begitu saja demi laki-laki ini dan yang dimaui terasa cukup rumit untuk ukuran hari yang panasnya seperti ada 5 matahari di atas sana. Dia berpikir sejenak agar jawabannya kali ini bisa (paling tidak) terdengar menarik untuk Laki-laki Berbau Wangi.

“Begini mas, mawar yang kami punya ini istimewa lho. Kemungkinan baru toko kami saja yang menyediakan mawar varian ini. Kalau mawar tanpa duri seperti yang mas sebutkan tadi kemungkinan di toko bunga lain masih ada. Mawar kami ini Mawar Duri Lunak. Sebab apalah artinya bunga mawar jika tanpa duri. Bukankah yang sudah dipersatukan Tuhan tak boleh dipisahkan oleh manusia katanya?”

Laki-laki Berbau Wangi sedikit terkesiap mendengar jawaban Laki-laki Penjaga Toko yang kali ini lumayanlah menurutnya. Karena setelah tadi dia bawa-bawa undang-undang negara sekarang dia berani bawa-bawa Tuhan. “Hmm... Oke, aku baru dengar varian yang kau sebutkan barusan. Coba jelaskan padaku tentang Mawar Duri Lunak unggulan tokomu ini”

Laki-laki Penjaga Toko berdehem sebentar sebagai pengulur waktu tak seberapa untuknya berpikir. “Begini mas, kan di luar sana ada banyak sekali dijual ikan bandeng tanpa duri. Apa pernah terlintas di pikiran mas, bagaimana ikan-ikan bandeng itu bisa hidup tanpa duri dalam tubuhnya sebelum mereka dimasak sedemikian rupa hingga bisa menjadi santapan manusia? Saya tak pernah membayangkan bagaimana ilmuwan-ilmuwan itu bisa mengembang biakkan jenis ikan seperti itu. Entah berapa tahun riset yang mereka lakukan hingga akhirnya bisa menciptakan varian ikan itu”

Laki-laki Penjaga Toko berhenti sebentar dan menyempatkan melirik ke arah Laki-laki Berbau Wangi untuk tahu seperti apa reaksinya. Laki-laki Berbau Wangi masih diam dengan muka datar menanti lanjutan jawaban dari Laki-laki Penjaga Toko. Akhirnya dengan ekspresi yang sedikit dilebih-lebihkan sedihnya, Laki-laki Penjaga Toko melanjutkan penjelasannya, “Sebagai laki-laki mas tahu kan ada satu tulang rusuk kita yang hilang, dan untuk menemukannya itu tak mudah bukan? Butuh perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Bahkan tak jarang ada yang sampai rela bunuh diri karena tak tahan menanggung berat perjuangannya menemukan satu tulang rusuk yang hilang entah kemana. Itu baru satu tulang mas, coba bayangkan ikan-ikan bandeng ini, mereka tanpa tulang atau duri sama sekali. Kadang saya berpikir, pantas mereka rela mati begitu saja untuk dijadikan hidangan manusia. Paling tidak mereka bisa merasa keberadaannya di dunia ini berguna” Laki-laki Penjaga Toko mengakhiri penjelasannya dengan membuang napas berat sambil menunduk. Lagi-lagi ekspresi sedih yang berlebihan.

Laki-laki Berbau Wangi yang sedari tadi diam saja mendengarkan penjelasan Laki-laki Penjaga Toko tiba-tiba seperti mendapat ide cemerlang di kepalanya. Dan sebagai tanda terima kasih dia menepuk-nepuk pundak Laki-laki Penjaga Toko sembari berkata, “Sudah sudah mas, jangan buat saya jadi sedih dengan curhatanmu itu. Cukup penjelasannya. Sekarang tolong susunkan satu hand bouquet berisi Mawar Duri Lunak sebanyak 35 tangkai. Buat yang cantik ya, karena ini akan kuberikan pada seseorang yang istimewa”

Laki-laki Penjaga Toko terkesiap mendengar kata-kata Laki-laki Berbau Wangi yang sejak tadi sama sekali tak melepas kaca mata hitamnya. Ada pekik girang yang tercekat di tenggorokannya karena ini berarti tugasnya sebagai sales sudah selesai dan pembelinya setuju untuk membeli barang dagangannya. “Wah! Siap, mas! Sebentar ya, saya buatkan”, katanya sambil bergegas mengambil ember yang penuh berisi bunga mawar merah.

Laki-laki Berbau Wangi mengamati saja sambil duduk di sofa yang ada di dekat pintu masuk toko. Dia sedikit penasaran pada apa yang akan dilakukan Laki-laki Penjaga Toko pada mawar-mawar itu hingga bisa disebut Mawar Duri Lunak walau tak lagi begitu peduli karena dia telah mendapatkan alasan yang bagus kenapa dia akan memberikan varian bunga ini kepada seseorang setelah ini. Ternyata benar dugaannya, Laki-laki Penjaga Toko hanya memotong sedikit ujung duri dari mawar-mawar itu, bukan menghilangkannya sama sekali. Karena tak mungkin jika dia memproses mawar-mawar itu dengan alat presto yang tentu akan membuatnya jadi matang. Dan dia tersenyum saja melihat kelakukan Laki-laki Penjaga Toko. Senyum yang memiliki dua arti, pasrah karena mau saja dikira bodoh olehnya dan kemenangan karena mendapatkan ide luar biasa dari penjelasan mutu rendah darinya.

Laki-laki Berbau Wangi segera menuju ke sebuah rumah sakit mewah berlantai 11 di pusat kota. Dengan mantab dia melangkah menyusuri lorong rumah sakit dan memakai lift menuju ke lantai 6. diketuknya pelan pintu kamar 682 lalu membuka pintunya. Seseorang Dengan Rambut Hitam Panjang yang sedang tidur di atas ranjang kamar itu membuka mata. Dia tersenyum melihat Laki-laki Berbau Wangi. Dengan suara sedikit serak dia menyapa, “Hei...”

Laki-laki Berbau Wangi segera melarang ketika melihat Seseorang Dengan Rambut Hitam Panjang berusaha bangun dari ranjangnya. “Sssttt... Tiduran saja. Jangan terlalu banyak gerak dulu. Kamu masih harus banyak istirahat”, kata Laki-laki Berbau Wangi sambil tersenyum dan mengusap rambut Seseorang Dengan Rambut Hitam Panjang.

Seseorang Dengan Rambut Hitam Panjang tersenyum. Ada bahagia di matanya. “Kau dari mana? Kenapa baru datang?”

“Iya. Semalam setelah operasimu selesai dan kondisimu sudah stabil, aku pamit pada suster jaga dan meminta mereka menjagamu. Ada sedikit yang harus aku kerjakan pagi tadi. Sudahlah, tak ada yang menarik untuk kuceritakan padamu. Bagaimana perasaanmu sekarang?”, kata Laki-laki Berbau Wangi yang sudah melepas kaca matanya sejak masuk kamar tadi.

Seseorang Dengan Rambut Hitam Panjang tersenyum dengan mata lelahnya. “ Entahlah. Aku belum bisa merasakan perbedaannya. Tapi yang jelas ini masih sakit sekali”

Tiba-tiba Laki-laki Berbau Wangi menyodorkan seikat Mawar Duri Lunak yang dibelinya tadi dengan tangan kanan yang sedari tadi disembunyikan di belakang punggungnya sambil berkata, “Selamat ulang tahun, sayang. Selamat menjalani hari-hari barumu kedepan” Laki-laki Berbau Wangi mencium kening Seseorang Dengan Rambut Hitam Panjang yang saat itu matanya berbinar dan menampung sedikit genangan ketika menerima ucapan dan bunga untuknya.

“Terima kasih, sayanngku. Cantik sekali bunganya”, kata Seseorang Dengan Rambut Hitam Panjang. “Tapi sejak kapan kau menyukai mawar? Seingatku kau tak begitu suka dengan bunga ini karena hampir semua orang memuja cantiknya tapi sering lengah pada duri tajamnya”

Laki-laki Berbau Wangi tersenyum mendengarnya. Dia tak pernah ragu pada orang yang disayanginya ini, dan semakin teryakinkan ketika hampir semua hal kecil yang disuka dan tak disukainya diingat dengan baik oleh Seseorang Dengan Rambut Hitam Panjang.

“Sayang, kau tahu, bunga ini berjumlah 35. Sesuai dengan umurmu sekarang. Aku memang tak pernah menyukai mawar, tapi ini bukan mawar biasa. Ini adalah Mawar Duri Lunak. Coba perhatikan, duri-duri yang ada di tangkainya tetap ada, tapi tak setajam duri mawar biasa. Ujungnya yang runcing dipangkas sedikit agar supaya dia tak kehilangan durinya, tapi tak akan melukai penyukanya. Kau suka bunga mawar bukan? Dan ini sekaligus simbol untuk menyambut dirimu yang baru. Setelah semua operasi yang kau lalui, aku tak kehilangan sedikitpun darimu, bahkan akan mendapatkan lebih banyak lagi nantinya. Kau tetap laki-laki yang aku cintai, bahkan dengan bonus lemah lembutmu yang kini semakin sempurna. I love you”, kata Laki-laki Berbau Wangi sambil mencium kening Seseorang Dengan Rambut Hitam Panjang yang kini meneteskan air mata karena haru dan bahagia.



Jogja, 6 April 2018
Ditulis untuk #NyincingDasterClub dengan tema #mawar