Kamis, 27 Agustus 2015

Love But Whisper, Are You Listening?

Ssstt.. Aku mencintaimu
Iya, mencintaimu..
Sedih rasanya, tak dapat membagi hal indah ini ke banyak telinga
Menyimpannya seorangan saja, untukku..

Pernah kau mengalami ini?
Mencintai sesungguh-sungguhnya,
Menyayangi sedalam-dalamnya,
Dan menyimpan isak karenanya, seorangan saja..

Jatuh cinta yang tak selalu manis
Ingat kataku, cinta tak pernah datang tepat waktu
Entah kenapa Tuhan menciptakan cinta yang tak dilengkapi aplikasi tanggal dan waktu
Dia memang Maha Segala-galanya, termasuk Bercanda
Dan kita, linglung dibuat-Nya, seorangan saja..

Boleh kuminta waktumu?
Sebentar saja, janji tak akan lama..

Coba kau ingat lagi, pernah ada yang mencintaimu sepertiku?
Pernah, ada yang menyayangimu tanpa tahu dan butuh alasan untuk itu?
Pernah, ada yang memberimu sebentuk hati dan tak meminta lebih dari sekedar senyum bahagia sebelum dan saat bangun tidur?
Atau pernah, kau merahasiakan sesuatu yang begitu membuat bahagia, seorangan saja?

Dengar aku,
Aku membutuhkanmu untuk terus menyimpan itu
Aku butuh kerelaanmu menyimpan senyum itu
Hanya untukku dan kamu, berduaan saja…
Jangan ada lainnya, kau tahu kenapa : )


Love but whisper, I hope you’re listening..



Selasa, 25 Agustus 2015

Biarkan Saya Bahagia, Sebentar Saja

Aku suka melihatmu sibuk begitu
“Kemalasan adalah musuh terbesar laki-laki”, katamu
Kubiarkan saja kau di sana
Menanti saat aku mendapatkan matamu mencuri pandang ke arahku
Dan sempat saja wajahmu memerah karenanya

Aku suka melihatmu diam saja di depan laptopmu, mengerjakan sesuatu
“Sebentar sayang, kuselesaikan dulu ini ya”, katamu
Kupandangi saja kau dalam senyum
Aku tak pernah berani memandang matamu saat berbicara denganmu
Jadi biar saja kucuri di saat-saat begini

Aku suka saat kau acak riap rambutku
Padahal kau tahu setengah mati aku membuatnya tampak baik
Dan kemudian menarikku ke pelukmu
Dan mencium dahiku begitu saja
Jantungku berhenti sejenak di sana, asal kau tahu

Jangan tanya apa yang tak kusuka
Pasti ada
Dan kau pun tahu itu apa
Ah, sudahlah.. Aku sudah memulainya dengan yang kusuka
Jangan kau rusak dengan pertanyaan tak suka,

Biarkan saya bahagia, sebentar saja.. 

Senin, 18 Mei 2015

Semoga Kita Tetap Menjadi Kita

Pernah kalian merasa beruntung? Hal apa yang membuatmu merasa begitu beruntung? Apa yang dapat lebih kau syukuri dari memiliki seseorang yang sayangnya begitu dalam padamu dan tulusnya tak perlu kau ragukan?

Adalah dia, kakak, sepupu, kesayangan, laki-laki yang dicintai banyak wanita dan pesonanya sulit untuk membuatmu tak menengok (walau hanya) mendengarnya berbicara. Kak Seno, begitu aku memanggilnya sejak kecil. Aku hampir lupa kapan aku mulai begitu mengingatnya. Tapi tak akan pernah kulupa bagaimana aku begitu terkagum-kagum pada pemikiran dan logat melayunya yang menurutku begitu syahdu.

Adalah dia, yang tak pernah melewatkan mengucapkan selamat ulang tahun padaku di setiap tanggal 6 bulan ke 11 tahun-tahun yang kulewati, dengan kata-kata manis yang terlalu sulit bagiku untuk tak mengingatnya. Selalu disisipkannya doa-doa indah untukku di hari itu. Harapan-harapan indahnya padaku, untuk selalu menjadi perempuan luar biasa serta kuat dan semakin kuat tiap tahunnya. Tak pernah diizinkannya aku menyerah begitu saja pada masalah. Selalu kuingat bagaimana dia memujiku dengan cara yang tak biasa, cara yang sama sekali berbeda dengan laki-laki lain melakukannya. Hanya ketulusan yang dia punya untukku, tak ada tujuan lainnya.

Adalah dia, laki-laki yang sangat sering memanggil sayang dan menciumku tanpa canggung di depan umum. Bahkan di depan kekasihnya sendiri! Memasang foto saat dia menciumku begitu mesra di jejaring sosial miliknya. Hingga banyak kawan kami yang kemudian menyempatkan bertanya secara pribadi tentang siapa dia, siapa saya dan ada hubungan apa. Tak bisa kutahan tawaku setiap ada orang yang menanyakan hal ini. Dan tak jarang kugoda mereka hanya dengan menjawab “RAHASIA!” hahaha..

Adalah dia, laki-laki yang padanya aku berani menaruh harap tanpa takut akan menyesal kemudian karena kecewa dengan harapanku sendiri. Selalu kuingat pertanyaannya setiap kami bertemu, “Kamu apa kabar, Vick?” dan betapa sedihnya dia jika jawabku adalah mangu penuh ragu. Pernah suatu kali kuceritakan permasalahanku padanya, dan dengan menghela napas dia mengatakan, “Selalu kuingatkan padamu, Vick. Jangan pernah bertaruh jika tak yakin menang.” Lalu bagaimana lagi aku harus membela diri dengan kata-katanya ini?

Adalah dia, satu-satunya laki-laki selain bapakku yang tidur semalaman dengan memelukku dan tak memikirkan sex sama sekali. Sepanjang malam kami berbagi cerita dalam pelukan. Kami selalu menikmati kebersamaan kami yang sangat jarang. Memanfaatkan kesempatan yang semakin hari semakin menyempit karena pekerjaan dan tanggungjawab pada keluarga yang saat ini kami miliki. Tapi tak apa, ini cukup bagi kami. Dia telah mengajarkan dengan baik padaku untuk selalu “mencintai keterbatasan”. Percayalah, itu tak mudah. Tapi kami pandai menerapkannya.

Adalah dia, guru tak resmi yang kubayar hanya dengan senyum untuk ilmu-ilmu hidup yang tak pernah kudapatkan di bangku sekolah mana pun. Selalu kuingat tulisannya, “Kami dibesarkan oleh masalah, masalah dan masalah”. Aku tersenyum saja membacanya. Memang tak sedikit dan tak ringan masalah yang kami miliki sepanjang kebersamaan kami. Tapi itu tak pernah membuat kami menyesali hidup, bahkan justru makin fasih untuk untuk saling menguatkan satu sama lain.

Adalah dia, yang selalu mengingatkan agar “kita bisa selalu menjadi kita”. Ada beberapa fase yang kami lalui dan memunculkan pemikiran takut kehilangan “ke-kitaan” kami, saat aku akan menikah dan saat dia akan menikah. Kami berdiskusi panjang sekali saat aku memutuskan untuk menikah. “Apa yang kau cari dari menikah sih, Vick? Kalau hanya anak yang kau cari, kau bisa mendapatkannya dari mana saja, kapan saja, tak harus menikah. Tapi jika masalah yang kau cari, maka menikahlah.”, katanya ringan tanpa rasa bersalah di depanku yang mendadak pucat mendengarnya. Bagian mana dari kata-katanya ini yang kalian tak setuju? Tapi biarlah, kuijinkan dia mengungkapkan rasa takutnya aku akan tersakiti oleh orang lain yang tak pernah begitu dikenalnya dan kemungkinan dia tak bisa mencegahnya terjadi. Hingga kemudian dia mengatakan, “ Apa pun yang terjadi nanti saat kau bermasalah, aku tak perduli dia ataukah kau yang salah, aku akan selalu di belakangmu untuk membelamu, karena kita disatukan oleh darah.” Manisnya dia.. J

Dia sangat laki-laki. Tak pernah kulupa bagaimana caranya memperlakukan wanita. Semua yang pernah bersamanya pasti tahu dan akan selalu mengingatnya. Beruntunglah istrinya yang begitu dia sayangi dan diperlakukan sangat mulia olehnya.


Jangan pernah berhenti menyayangiku. Aku akan selalu membutuhkanmu untuk membagi tawa dan sedihku. Teruslah menjadi “brengsek” untuk kita, jangan pernah menyudahinya, kita membutuhkannya untuk tetap bertahan hidup dan naik kelas bersama-sama. Semoga kita tetap menjadi kita. Tresnaku tanpa upama..

Sabtu, 21 Maret 2015

Mencintai Perempuan Semampumu




“Jika seorang laki-laki sangat mencintai seorang perempuan, saat perempuan yang dicintainya tepeleset maka batu yang ada di dekatnya lah yang akan di salahkan.”

Pernah mendengar istilah manis ini?

Saya mendengarnya dari seorang kawan laki-laki beberapa waktu lalu. Sayang saya tak melihat mimiknya langsung saat mengatakannya, karena dia duduk di belakang saya. Tapi saya bisa tahu dari nadanya, dia bersungguh-sungguh mengatakannya.

Sebentar. Biar saya ceritakan sedikit tetang kawan saya ini. Dia laki-laki biasa. Beberapa tahun lebih tua dari saya. Jangan ditanya tentang pengalaman hidup. Dia jauh lebih senior dari saya dalam merasakan pahit manis kehidupan. Dia pernah sukses, benar-benar sukses dengan usahanya, sampai suatu ketika terjatuh dan hampir tak memiliki apa-apa. Belum lama saya mengenalnya, tapi sering terkaget-kaget dengan pemikiran-pemikiran dia tentang hidup, cinta, agama, kegagalan dan banyak hal lainnya. Pemikiran yang menarik dan masuk akal.

Baiklah, sesaat saya teringat sebuah pemikiran yang hampir mirip dengan penyataan di atas. Saat itu saya sedang membaca sebuah artikel tentang cara mendidik anak. Di sana disebutkan bahwa, “Jangan membiasakan menyalahkan benda atau makhluk lain yang ada di sekitar anak-anak saat mereka terjatuh”. Dan disertakan pula contoh, ketika anak jatuh kita membela mereka dan menyalahkan batu, cicak atau apa pun yang ada di sekitarnya. Saya paham maksudnya, supaya anak tahu mengapa dia bisa terjatuh agar lebih berhati-hati dan menyalahkan hal atau orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan.

Namun coba kita baca lagi kalimat manis di atas. Hal tersebut terasa sangat manis saat si pelaku adalah seorang lelaki dan perempuan dewasa. Saya tersenyum mendengarnya. Ada berapa laki-laki yang benar-benar seperti itu di dunia ini? Maaf, jika pertanyaan saya terdengar sangat sinis. Tapi begitulah saya, tak pernah menelan begitu saja hal-hal manis tentang hubungan laki-laki dan perempuan.

Pram pernah menulis, “Memiliki pasangan adalah hal yang biasa saja, yang hebat-hebat hanyalah tafsirannya”. Entah kenapa, tulisan Pram tersebut terasa lebih realistis dan bisa diterima. Tak apa jika kalian tak sependapat, saya paham bahwa banyak perempuan menyukai hal-hal manis yang dilakukan pasangan mereka padanya, pun saya kadang-kadang menginginkan hal-hal manis tersebut. Saya perempuan biasa, manusia biasa. Dan percaya hal-hal manis seperti di atas ada, di film-film, hehe
Pernah suatu ketika saya dan seorang kawan membahas, “laki-laki tukang gombal, karena perempuan suka digombalin”. Kami membahasnya sambil tertawa-tawa memang, walau ada sedikit ketidak setujuan saya dari pernyataan tersebut. Ini bahaya jika semua perempuan menelan begitu saja hal-hal manis (yang saya sering menyebutnya gombal) dari laki-laki. Saya khawatir akan banyak perempuan yang terkena diabetes karena hal ini, hehe :D

Oh man, tolong ajari saya untuk tak terlalu sinis pada hal-hal manis. Saya terlalu sering berpikir bahwa laki-laki yang sungguh-sungguh mencintai dan sangat menghargai perempuannya bisa dihitung dengan 10 jari saja di dunia ini. Hal tersebut biasanya hanya terjadi di awal-awal hubungan saja. Selanjutnya saya lebih sering melihat pasangan-pasangan yang “lupa” akan rasa yang mereka miliki saat awal mereka bertemu dan begitu sangat saling mencintai. Hal ini bisa dikarenakan banyak hal, salah satunya intensitas bertemu yang lebih sering. Yang begini ada? You tell me J

Hingga suatu ketika saya mendapatkan “istilah” baru dari seorang kawan, reuni katresnan. Dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah “reuni rasa cinta”. Hal ini disampaikan kawan saya pada ulang tahun pernikahan saya dan suami yang ke 8. Tujuannya adalah untuk mengingat lagi, apa yang dulu membuat kita sangat mencintai pasangan kita, mengulangnya lagi, agar rasa tersebut tak terkikis oleh waktu dan lebih buruk lagi terlupakan. Menjadikannya lagi kebiasaan, mencintai seperti waktu awal.


Saya memang tak biasa dengan hal-hal manis. Bukan berarti hidup saya tak manis, tapi mempercayai hal-hal realistis selalu lebih manarik buat saya. Mencintai perempuan semampunya terasa lebih bijak. Saya hanya khawatir akan begitu patah hati jika kemudian hal-hal manis yang dilakukan laki-laki ke perempuannya lambat laun semakin menghilang. Ini tentang kehilangan sesuatu yang indah, bukan? Dan itu pasti tak mudah. Tak apa, ini manusiawi, kita manusia kan?

Rabu, 25 Februari 2015

More

"Ok, sampai jumpa minggu depan. Dan jangan lupa paper minggu ini harus terkumpul semua minggu depan. Terimakasih". Kututup laptop dan membereskan mejaku, mengakhiri kelas. Berjalan di koridor kampus menuju ruang dosen. Membereskan beberapa buku dan menandatangani berkas-berkas yang ditinggalkan dengan note di mejaku.

Kukendarai mobilku lebih pelan dari biasanya. Baru pukul 14.00 dan hujan telah mengguyur kota ini, rintik namun intens. Ada Etta James mengalun merdu di speaker mobilku. Kusempatkan melepas blazer ketika berhenti di trafficlight, membuka sedikit jendelaku dan menyalakan sebatang marlboro light. Etta James menyanyikan "I've Been Loving You Too Long" dan aku pasrah dibuatnya merana.

Ingatanku kembali ke percakapan kita beberapa waktu lalu saat aku akan meninggalkan kotamu, berpamitan.
"Saya pulang. Kutinggalkan hatiku di kota ini. Kuyakin akan over bagage jika kubawa serta, berat.", kataku sambil menunduk dan membuang nafas berat.
"Tak apa, akan kuantar kembali ke sana suatu saat nanti.", katamu sambil tersenyum menggenggam tanganku erat. Mencoba menghibur.
Aku tersenyum, yang kuyakin senyum pahit yang kau lihat. Maafkanlah aku yang tak pernah pandai bersikap "tak apa-apa" padamu. Kuyakin kau mengerti.

Kuhentikan mobilku di parkiran sebuah taman. Hujan telah berhenti, dan sore ini menjadi cantik sekali dengan matahari merah yang memenangkan langit dari mendung. Kulepas heelsku dan menggantinya dengan flatshoes. Kubawa turun sebuah novel dan membawa serta hapeku saja. Kusempatkan membeli ice thai coffee di coffeeshop dekat parkiran. Kemudian menyusuri jalan konblok menuju sebuah bangku yang terletak tak jauh di pinggir danau kecil berbunga teratai. Duduk di sana, dan membiarkan sinar matahari mencuri kulitku di balik bayangan pohon di belakangku. Kuikat rambut panjangku ke atas dengan sedikit berantakan, tak apa, aku menyukainya seperti ini.
Aku mulai membuka novel yang kubawa.

Namun tak lama, ternyata aku lebih ingin menikmati sunyi di sore ini. Kututup lagi bukuku dan menyalakan sebatang rokok. Memandang kosong ke danau di depanku. Membiarkan mataku tersakiti okeh kilau airnya yang luar biasa. Kuminum kopi dinginku yang selalu mengingatkanku akan ejekanmu, "Bukan seperti itu cara menikmati kopi, cah ayu.", katamu. Namun aku tersenyum saja mengingatnya. Kau tahu aku bukan peminum kopi, dan kau bilang senang sekali ketika kubilang kuingin minum kopi. Coba ajariku cara mengingatmu yang lebih baik lagi selain dengan tersenyum seperti ini. Tak pernah kutemukan. Kupasang ear plug dan Andrea Bocelli mulai menyanyikan More.
"More than the greatest love the world has known, this is the love i give to you alone..."
Kupasrahkan diriku pada rindu padamu yang tak mengenal ampun.
Kutengok jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 16.12. Aku kembali ke mobilku dan menyetir pulang.

Sesampai di rumah, memanaskan air dan menyeduh secangkir teh. Duduk di sofa tanpa menyalakan tv, masih dengan setelan kerja. Menyalakan mp3 dengan remote dan diam mendengarkan Great Big World menyanyikan Say Something.
"And i will swallow my pride, you're the one that i love and i'm saying goodbye..."
Kupejamkan mata dan tersenyum saja

Engkau selalu menjadi yang tersayang untukku. Tak pernah kuingin mengubahnya. Tak pernah ingin menyudahinya.


Jogja, end of  September 2014

Hari Ketiga



Tidurlah, sayang
Istirahatkan sakitmu, beri waktu mata sayumu untuk memejam
Agar hilang lelahmu, setelah berkali-kali menangis menahan sakit karena jarum-jarum suntik yang sudah hampir kehabisan tempat untuk bekerja di kedua tanganmu, di hari ketiga
Maafkanlah suster-suster di sini yang tak tahu cara menyembuhkanmu tanpa harus menyakitimu begitu
Sudah berkali-kali kupanjatkan doa ke Tuhan dan meminta sakitmu untukku, namun Tuhan memang suka bercanda dan kali ini sama sekali tak lucu, ya Ibu tahu
Mari sini, tidurlah di lengan Ibu
Agar bisa kupandangi lagi wajah tulusmu menjalani semua ini
Agar Ibumu punya waktu untuk melepas isak di punggungmu
Jangan khawatirkan esok, malam ini akan kuminta kembali pada Tuhan untuk kesembuhanmu
Semoga saja Dia tidak sedang sibuk atau piknik,
Hampir habis air mata Ibu melihat kalian lemah begitu
Pejamkan matamu, nak
Lupakan sejenak ngilu di tubuhmu
Lelaplah dalam mimpi-mimpi
Tak henti mulut dan hati ibu merapal segala doa untuk kebaikan kalian
Demi apa? Demi melihat lagi senyum kalian yang selalu jadi penawar untuk segala sakit yang dokter mana pun tak punya obatnya
Demi Tabina


Jogja, February 8th 2015


Kamis, 09 Januari 2014

Angin Sore

Ketle ku berteriak, kumatikan kompor dan menyeduh teh tubruk yang kutuang di cangkir berbahan seng old school kesayanganku. Menambahkan sesendok teh gula dan menikmati uap wangi teh hitam yang selalu kusuka.

Mari duduk bersamaku. Sekedar membagi senyum atau diam pun tak apa. Menertawakan pahitnya hidup atau sekedar membagi cerita manis cinta yang ternyata tak selalu membuat kita bahagia, dan please jangan tanya kenapa.

Sebentar, biar kunikmati dulu tehku. Menikmati uapnya yang menari-nari di wajahku saat kudekatkan cangkir ke bibirku. Aku selalu memejamkan mataku di saat-saat seperti ini. Memanjakan uap, wangi teh dan keabadian untuk berbahagia. Sssstt,, biarkan saja dulu mereka di sana.

Sering kuangankan kau hadir bersamaku di saat-saat seperti ini. Menikmati angin sore berdua saja. Bergenggaman tangan dan bertatap mata. Membagi senyummu tanpa harus kuminta. Dan sesekali kau acak riap rambutku, katamu kau suka melakukannya. Tak pernah lagi kutanya "mengapa", aku lebih memilih senyum alih-alih menanyakannya lagi.

Namun kau tak ada. Seiring waktu terlalu sulit untuk menemukan hadirmu. Terlalu banyak yang tak lagi kau tahu tentangku. Terlalu sering aku kecewa tak berbatas waktu. Terlalu sepi sudah berandaku. Dan angin sore ini, kuharap dia tak sepertimu.

Jogja, Jan 13th 2014

Kamis, 19 Desember 2013

Fallin Love at the Coffee Shop

Sore itu coffee shop yang kusinggahi untuk pertamakalinya di kota ini sedikit ramai pengunjungnya. Aku memilih duduk di pinggir, sedikit menjauh dari keramaian. Aku tak pernah suka pada kota ini. Dengan segala hingar bingar dan keangkuhan orang-orangnya. Tapi aku suka menyendiri di keramaian seperti ini. Aku bisa menciptakan duniaku sendiri tanpa harus peduli dengan tatapan orang sekitar yang memandangku dengan aneh. "I just don't give a shit!"

Aku sering melakukan ini. Pergi ke coffee shop sendiri saja, menyelesaikan beberapa pekerjaan, menulis, atau sekedar menikmati sore dan kawan baiknya, kopi. Senja itu kubawa beberapa sisa pekerjaan yang harus segera kuserahkan esok. Membuka journal dan beberapa e-mail, mengetik dan menjawab agenda-agenda yang harus diselesaikan seminggu ke depan. Menyalakan rokok dan menghisapnya sesekali sambil mengetik. Terbayang seperti apa berantakannya meja dan keyboardku? Ah, aku menikmati ini. Kesendirian yang sama sekali tak sepi.

Kebiasaanku adalah mengikat rambutku yang terurai baik ke belakang agar terkurangi keriuhan dengan segala pekerjaanku. Dan itu sering kulakukan di tengah-tengah aku mengerjakan semuanya. Setelah selesai mengikat rambut, kupakai kembali kacamata bacaku. Tak kusadari di ujung ruangan ini ada seorang lelaki yang sudah lama memperhatikanku. Dia duduk sendiri saja. Membaca buku dan merokok. Melirik ke arahku sesekali untuk kemudian melanjutkan membaca bukunya. Dia berpakaian santai, memakai celana jeans warna gelap, polo shirt, dan sepatu keds berwarna navy.

Di mejanya terhidang secangkir kopi hitam. Rokoknya menggantung di asbak yang lebih rapi dari milikku. Dan saat itulah. Saat aku berhenti mengetik untuk berfikir sejenak tanpa merubah jari-jariku dari keyboardku. Saat ada seekor burung yang hinggap di sisi luar jendelaku. Saat dia berpaling dari bukunya dan menatapku diam-diam. Setelah mataku terpejam beberapa saat dalam penat. Mata kami bertemu di sebuah sudut yang sudah kulupa cara menghitungnya dengan ilmu pitagoras yang diajarkan sewaktu duduk di bangku SMA. Melalui sebuah cermin yang ada di salah satu dinding tempat itu.

"Deg!" Jantungku berhenti sepersekian detik karena nafasku yang tertahan. Aku gelagapan salah tingkah. Kembali menatap layar laptopku sambil membenahi kacamataku. Berusaha mengetik sesuatu dan gagal dengan sukses, konsentrasiku buyar. Masih terlintas bagaimana matanya "tersenyum" melihatku tadi. Ah, manisnya! Tak bisa kutahan senyumku menuliskan ini. Dan kawanku Dita yang duduk di sebelahku saat ini memakiku, "Mbak, sehat?" hahaha...

Biar kulanjutkan. Dapat kulihat dari sudut mataku, laki-laki itu masih saja mencuri tatap ke arahku sesekali. Dan aku sama sekali tak berani melihat ke cermin di dinding tadi lagi. Kucoba setengah mati menyelesaikan pekerjaanku. Keadaan ini membuatku hanya mampu menyelesaikan 2 e-mail lain dan sudah, aku berhenti bekerja. Bahkan rokokku tak mampu membantuku berkonsentrasi lagi.

Kututup laptopku, membereskan journalku yang berserakan di meja dan memasukannya ke dalam tas. Mejaku terlihat sedikit lengang sekarang. Kuambil sebatang rokok lagi dan mulai menyalakannya. Aku menatap jauh ke luar jendela, dan betapa sulit untukku tak tersenyum saat itu.

Tak lebih dari 2 menit sejak kunyalakan rokokku, lelaki itu menghampiri mejaku dan berkata dengan sopan, "Maaf, apakah nona menunggu seseorang? Jika tidak, maka bolehkah saya duduk semeja denganmu agar saat pulang nanti saya bisa memiliki senyum yang sama dengan yang kau punya saat ini?"
Damn'! Mukaku merah seketika. Entah harus menjawab apa namun tak mampu untuk menolak manisnya, aku mengangguk dan mempersilahkannya dengan salah tingkah.

Kuminum coffee latte ku yang sudah dingin, sambil mataku memandang ke arah lain. Matanya tak berhenti menatapku. Tuhan, rasanya ingin ditelan bumi. Dan dia mulai berkata, "Saya menunggumu cukup lama dengan pekerjaanmu. Berharap agar kau segera selesai dan saya dapat duduk di sini." Aku hanya tersenyum, tak tahu harus bagaimana. Dia melanjutkan, "Maafkan ketidaksopananku, tapi aku akan menyesali hidupku jika sampai kubiarkan kau pulang tanpa kuketahui namamu." Dia mengulurkan tangannya, "Hans..". Kusambut tangannya, "Ann.."

Dia orang yang sangat manis. Tak cukup secangkir kopi untuk menceritakannya. Namun manisnya cukup untuk menggantikan peran gula di kopiku. Bagaimana kopimu? Selamat hari Minggu.

Jakarta-Jogja 21 Desember 2013

Sabtu, 07 Desember 2013

Sexy Train

Sudah hampir 23,8 menit aku menunggu kereta yang akan membawaku menuju kotamu, dia belum juga datang. Seolah sengaja mengejekku dengan membuatku menunggu lebih lama. Dia tahu betul aku tak mungkin beranjak pergi sebelum dia datang menjemputku.

Satu menit, lima, enam... Ah, ini mulai membosankan. Oh, tidak tidak, mungkin aku saja yang kurang bersabar. Aku mulai menyalakan rokok keenamku selama menunggu keretaku datang. Menghisapnya perlahan, menikmati setiap hembusan asap yang memenuhi paru-paruku. Belum habis separuh rokokku kudengar pengumuman dengan suara pecah yang dikarenakan kualitas *speaker* yang memang jelek, keretaku segera datang.

Kumatikan rokokku, meneguk air mineral, dan segera bersiap menyambutnya. Tampak dari kejauhan dia mengedip nakal padaku, dia tahu aku menunggunya.
Sampai pada saat dia berhenti sempurna, aku berjalan menuju pintu gerbongku. Menarik nafas sebentar dan memasukinya, mencari tempat dudukku. Meletakkan koperku di atas dan duduk di sebelah seorang perempuan yang kurasa beberapa tahun lebih muda dariku.

Tak lama kemudian keretaku ini mulai merambat di atas titiannya. Mulanya pelan, namun dia sangat lihai dalam hal ini, menambah kecepatannya perlahan namun pasti. Gemerontang sambungan gerbong dan roda kereta bersahutan. Aku tak terusik, aku kangen bunyi ini.

Tak sampai satu jam, aku beranjak ke restorasi. Memesan teh panas dan memasang headset ke telinga.
Kulihat dirimu di sana. Menatapku lekat dan mulai berkata, "Terlalu mudah untuk menemukanmu di kereta yang kau sayang-sayang saat membawamu ke barat, dan tak henti kau maki saat membawamu kembali ke timur ini. Tak pernah kau ganti pilihanmu, teh panas." Lalu tersenyum dan bertanya, "Apa kabarmu, cah ayu?"

Bencinya aku tiap kau tanya dengan kalimatmu itu. Aku kerepotan menyembunyikan muka merahku. Benci pokoknya!
"Tak sebaik yang kau lihat sebenarnya", jawabku menahan sipu.

"Tak apa, selama masih bisa kulihat semburat pink di pipimu itu, kurasa kau cukup baik.", katamu.
Aku segera membuang pandang ke arah luar jendela, mengambil sebatang rokok dan segera menyalakannya. Berusaha tak menatapmu.

Namun kau dekatkan wajahmu mengikuti wajahku. Dengan tenang menatapku seolah aku tak keberatan.
"Seperti apa rasanya?", tanyamu.

Aku menatapmu, menghela nafas.
"Kupikir bisa mengobati rinduku dengan merokok yang sama denganmu. I wonder if you do the same thing, sometime."

Kau tersenyum, "Apa yang kau cari? You know i'm always around."
Aku menatap ke hamparan sawah hijau yang kulalui. Tak suka sekali dengan rasaku ini. Kuminum tehku yang mulai dingin dan hambar karena percakapan ini kurasa.

Kau melanjutkan, "Hanya beberapa jam dari sekarang kita akan berada di bawah langit yang sama. Please,, mana senyummu?"

Aku diam. Tak berani menatapmu, khawatir kau menangkap keraguan di mataku. Lalu kau genggam sejenak jemariku, dan mengusap pipiku, untuk kemudian berlalu pergi meninggalkanku.

Kunyalakan lagi sebatang rokok, kali ini marlboro light. Menghisapnya dalam dan hanya beberapa kali kemudian mematikannya, aku tak tahan terlalu lama seperti ini.

Meminum tehku dan tersedak kaget saat pramugara membangunkanku, "Gambir mbak.", katanya.

Kukemasi barangku dan menenteng koper keluar dari kereta. Tak lama hpku berbunyi, a text message, "Kau sungguh memakai baju abu-abu itu :)"
Senyumku mengembang seketika, kulihat kau di ujung sana tersenyum menungguku.

Sambil berjalan kubalas smsmu, "Dan kau sungguh-sungguh menantiku". Kemudian memasukkan hpku dan menyapa *driver* yang menjemputku.

Di dalam mobil kutulis lagi sebuah pesan pendek, "Aku senang bisa melihatmu di sana, betapa akan menjadi bahagia andai dapat memelukmu, sebentar saja.."

Jogja, Sunday December 8th 2013

Minggu, 01 Desember 2013

Tuhan di Hari Minggu

Pertemuan semalam dengan seseorang menyisakan senyum sempurna
Pagi ini menawarkan rindu yang lain
Kopiku pun lebih manis dengan gula separuh dari biasanya
Apa lagi yang ingin kau ketahui?

Semalam Tuhanku baik sekali
Dia memudarkan sedihku dengan cara yang luar biasa
Sore ini kami minum teh berdua
Dia tak menceritakan alasannya, "Itu terlalu biasa", kata-Nya
"Yang tak pernah kau bayangkan mungkin terjadi pun Aku mampu menjadikannya", lanjutnya.

Tanganku bergetar hebat menuliskan ini. Man, ini Tuhan yang sedang minum teh bersamaku! Dia mengatakan "bakat-Nya" tanpa nada sombong sedikit pun.

Kuberanikan bertanya kepada-Nya. Kataku, "Tuhan, kukira semua makhluk-Mu sadar betul tentang "kebolehan-Mu", let me tell you one thing, Engkau Maha Bercanda, Yaa Tuhanku, tapi sorry to say, kadang bercandamu itu jauh dari lucu. Aku sering Kau buat merana menelan rindu yang sulit kugapai penawarnya. Dan saat kucari, sering yang kudapati Kau sedang sibuk "mengiyakan" yang lainnya. Kenapa?"

Dan dengan super cool dia menjawab, "Menurutmu begitu? Menurut-Ku kau berlebihan. Tak perlu seperti itu kau menyanjungku, toh sekarang kita minum teh bersama. Dan kau pun tahu, cobaan dari-Ku adalah untuk kau coba, apa beratnya menikmati itu?"

Aku hampir memaki dengan mulutku yang menganga getir mendengar jawab-Nya. Kutelan makianku dengan meneguk tehku. Kataku dalam hati, "Ok, kalau cobaan dari-Mu adalah untuk kucoba, apakah godaan dari-Mu adalah untukku bisa menikmati goda?"

Tetiba dia berkata dengan nada yang tak bisa kutuliskan seperti apa lembutnya. "Kalau kau pikir hanya kau saja yang membenci matematika maka kau salah besar. Aku pun tak pernah menyukainya. Pelajaran bahasa selalu lebih menarik, dan Kurasa kemampuanmu mengaplikasikannya boleh juga. Tapi apakah semenarik itu bagimu mendebat-Ku?"

Glek! Aku menelan ludah. Mukaku pucat seketika. Aku menunduk dalam, dalam sekali.

Dia mengangkat daguku, lembut sekali. Memandangku teduh dan berkata, "Aku menganugerahkan ibu untukmu, yang kasih sayangnya padamu tak ada bandingannya. Dan ketahuilah kesayangan-Ku, Aku menyayangi umat-Ku melebihi sayang seorang ibu pada anaknya."

Coba beri tahu aku sesuatu paling tangguh yang kalian tahu. Aku membutuhkannya untuk menyangga air mataku agar tidak jatuh. Bahkan leher beton penyangga fly over terbesar di kota ini pun tak mampu menahannya. Dan menyerah begitu saja pada pemilik gaya gravitasi paling kuat di jagat raya, hati.

Dia pergi tanpa menghabiskan teh-Nya
Membiarkan rokok yang baru sepertiga bagian dihisap-Nya
Tanpa marah, namun tidak juga menyempatkan mengusap air mataku

Kuberanikan diri memanggilnya, "God, can i call?"
Dia menjawab tanpa suara, hanya kulihat dari gerak mulutnya mengatakan, "a-n-y-t-i-m-e"


**Jakarta, 1 Desember 2013**

Senin, 28 Maret 2011

undisclosed desires

Sore hampir usai, maghrib bersiap memasuki jam kerjanya. Dan langit pun menggelap, mengganti matahari yang memerah dengan bulan pucat yang hanya tampak setengah. Dan kau pun mulai gelisah, gemas dengan detik yang tak mau mengalah, supaya waktu tak lekas menua dan kau bisa menemuinya lebih lama. Supaya rindu tak menganiayamu terlalu lama hingga waktu kalian kembali berjumpa.

Dan saat itulah, saat sayup-sayup terdengar adzan di ujung entah sebelah mana. Saat kopimu mulai menjadi dingin. Saat tanganmu menjadi basah karena terlalu erat kau satukan keduanya untuk waktu yang cukup lama. Saat kau melihatnya datang dengan t-shirt putih berbalut cardigan warna cokelat hangat dan celana pendek serta sandal gunung kesukaannya. Semua tampak sempurna dengan senyum yang dia sematkan manis di wajahnya. Dan kau pun tersenyum bukan di sana?

Kalian bercium pipi dan saling memeluk beberapa saat lamanya. Memesan kopi yang lebih hitam untuknya dan menyalakan rokok masing-masing, bersiap memenuhi asbak yang sudah terisi beberapa batang sebelum kedatangannya. Kau letakkan tangan di atas meja dengan rokok terselip di jari-jari sebelah kiri. Mulai menatapnya dan bertanya kabar yang sudah kau ketahui jawabannya. Aneh, tapi memang kau tak tahu harus bagaimana memulainya. Berbasa-basi apalagi, tak pernah pandai kau melakukannya. Tapi tak usahlah bersedih, kuyakin pembacaku tersenyum membacanya, mereka tahu seperti apa rasanya!

Dan kalian mulai bicara. Tentang hari-hari penat yang kau lalui. Tentang anak-anak di lereng merapi yang dia temui. Tentang film-film luar biasa yang kalian suka. Tentang dunia yang tak bersahabat saat kau menanggung rindu yang luar biasa. Oh, tidak tidak, yang terakhir ini hanya kau ungkapkan lewat tatap mata, bukan kata-kata. Dan begitu seterusnya, terukir jelas di rautmu betapa kau begitu bahagia. Tak perlu kau ungkapkan, tiap kerut tawamu begitu pandai menjelaskan. Bahkan malam yang mendung setengah mati melawan takdir agar ini tak segera berakhir.

Namun begitulah dunia, sayang. Seperti tak pernah suka melihat seseorang bahagia terlalu lama. Itu kan yang kau rasa? Andai saya punya keberanian untuk menuliskan yang lebih hebat tentang kau dan dia. Andai waktu dan pikiran saya tak berbatas untuk menuliskan ribuan abjad tentang waktu indah yang selalu ingin kau rasa saat bersamanya. Akan kubuatkan kau secangkir kopi dan kuceritakan dengan bahasa rasa. Dunia memang tak pernah adil bagi para pecinta. Tapi biarlah kopi dan puluhan batang rokok ini menceritakan padamu betapa kita punya banyak sekali cara untuk menjadi bahagia.

Saat kusentuh tanganmu, kau tahu apa yang memberanikanku..
Saat kumenatapmu, kau tahu apa yang ingin kukatakan..
Saat kumemelukmu, kau pasti rasakan degupku..
Bahkan saat kuterpejam sesaat, kau tahu apa yang kurasakan..
Hanya saja mungkin ku tak akan pernah ungkapkan, dan jangan tanya akan sampai kapan..

merapuh

Mengingatmu seperti gumpalan awan yang tercairkan, deras tak beraturan. Hujan rindu yang tak mampu ditepis oleh payungku. Berteduhpun ku tetap basah kuyup. Lalu bagaimana kuharus mengeringkan badan dari hujan yang tak pernah berhenti?

Membicarakanmu seperti anak kecil yang memakan habis gulali pertamanya. Manis. Namun kemudian menyesal karena pahit lidah ini saat berhenti. Kau tak pernah tahu hal tak manis yang kualami ini. Coba beri tahu ku apa penawarnya? Tak ada.

Menemuimu adalah surga. Dunia kecil rahasia yang kumiliki seorangan saja. Seperti bahagia yang pertama kali kau rasa. Tak mungkin ku lupa desir darahku yang hampir kehilangan arah alir karena jantungku yang bekerja tak sesuai takdir.

Merindukanmu adalah segalanya. Kesepian maha dahsyat yang kurasa. Saat dimana kumenepis peluh yang hampir tanpa jeda. Dan ku menyerah pasrah pada serangan siksa yang luar biasa. Karena keterbatasan yang memang tak bisa kumelawannya.

Mengenangmu selalu membuatku tersenyum dalam perih yang terkulum. Saat kuciumi aroma rokok kesukaanmu. Saat ku selalu kembali ke tempat-tempat yang kita singgahi. Saat aku tiba-tiba menangis tanpa alasan dalam derai gerimis.

Ku hanya tak tahu cara mengatakannya,,
Ku tak tahu cara menghindarinya,,
Dan ku tak pernah tahu cara menghentikannya,, rindu yang tak ada penawarnya..

Senin, 06 Desember 2010

Entah ..


Lagu ini,, mengingatkanku padamu.

Mengingatkan akan caramu membuatku tersenyum dan hampir meratap kebingungan menahan air mata yang hampir jatuh karena tawa yang tak tertahankan. Bagaimana kau melakukan semua itu yang ku tak pernah tahu. Bagaimana kau rubah sendu menjadi haru yang entah. Bagaimana kau tak pernah marah saat kumemaki dan menyumpah segala yang ada dan tak pernah bisa kurubah. Entahlah ..

Dingin ini,, buatku rindu.

Kau tahu betul aku yang sangat membenci segala hal yang membuatku mudah jatuh rindu. Rindu itu seperti hujan deras yang terlalu. Kau menyukai rintiknya yang jatuh di tiap inci kulitmu namun kau sangat membenci pakaianmu yang jadi basah tak bisa tidak. Dan kau pun jadi begitu gelisah, karena rindu memang tak pernah lelah mengucurkan gundah dalam sepi yang entah. Entahlah ..

Kopi ini,, mengingatkanku pada suatu waktu.

Dimana kita berdua sangat menikmati setiap hembusan asap dari nafas yang resah. Berpuntung-puntung rokok dalam asbak yang tak pernah sempat rapi di meja kami. Berlembar-lembar gerah yang memang setia tak merubah arah. Bertumpuk-tumpuk jengah yang tak pernah rela berbaik mengalah. Entahlah ..

Kesendirian ini,, buatku tak suka jauh darimu.

Segala sepi yang menari sunyi. Segala bunyi yang bernyanyi penuh arti. Segala perih yang menggelayut lirih. Ku tak suka menikmatinya sendiri. Kau tahu indahnya tak pernah terbeli. Tapi ku benci kau tak ada di sini dan melengkapi semua ini. Perih yang entah. Entahlah ..