Selasa, 24 Januari 2017

Chapter I

THE UNIVERSE CONSPIRES AGAINST ME

Kulihat dia mengemasi alat musiknya. Sebuah benda bersenar gesek yang sangat disayanginya. Tak seperti hari sebelumnya. Tak ada keceriaan di wajahnya malam ini, hanya dia berusaha tak menampakkannya.  Dia menghampiriku dan mengambil posisi duduk di kursi samping dari meja kami yang bujursangkar, bukan di depanku seperti biasanya.

“Kamu sudah makan?”, tanyanya.

“Sudah dong..”, jawabku penuh senyum memandangnya

“Ok, kita jalan sebentar lagi ya, aku pamit sebentar sama anak-anak.” 
Yang kujawab dengan anggukan  dan senyum yang belum berkurang. Kuperhatikan saja dia dari meja kami. Mengobrol dengan kawan-kawan bandnya yang selalu saja menggodanya dengan banyak hal. Tapi begitulah dia, tak pernah bisa marah pada mereka yang sangat sayang dan disayanginya sejak lama. Kulihat mereka tertawa begitu lepas dan bahagia.

Tak sampai lima menit dia kembali dan mengajakku pergi. "Aku pulang yaa, sampai jumpa.", kataku dari jauh pada teman-temannya yang dibalas dengan lambaian tangan ramah mereka.

Di mobil dia menyetir saja dan tak lagi banyak bicara seperti siang tadi.
"Are you ok?"

"Iya, kenapa?", jawabnya sambil membetulkan kacamata

"Tak apa, hanya kurasa kau lebih banyak diam malam ini, tak seperti siang tadi. Lelah kah?"

"Enggak...", jawabnya sambil senyum melihatku sebentar dan mengusap tangan kananku. "Keretamu jam 23 kan? Kita ngobrol di coffeeshop stasiun saja ya, supaya tak buru-buru." Dan aku hanya mengangguk penuh setuju dengan senyum di bibirku.

Setelah mencetak boarding pass, aku menyusulnya di coffeeshop kecil di bagian depan stasiun ini. Mendekatkan kursi dan duduk di sampingnya.

"Kenapa senyummu?", tanyaku.

"Kenapa senyumku?", dia balik bertanya.

"Tak apa, tapi kuhitung tak sebanyak kemarin dan siang tadi. Aku khawatir kau lupa membawanya malam ini.", jawabku tersenyum padanya.

Tak ada jawaban dan wajahnya kini jadi memuram. Dia memandangku diam, diam dan penuh kesedihan.
"Hei, kau kenapa? Ada yang salah dari yang kukatakan?", tanyaku kemudian.

Dia membuang napas berat dan akhirnya berkata, "Tak apa, hanya tetiba berat rasanya."

Aku menaikkan alis menunggu lanjutan kalimatnya. "Ya, entah kenapa tetiba seperti ini rasaku. Seperti tak yakin kapan lagi bisa menemuimu. Hmm.. Ah, ini salahku, tak seharusnya merasa seperti ini, bukan?", mengakhiri kalimatnya dengan kalimat tanya.

"Hmm.. Kau kenapa? Kau ingin aku tinggal lebih lama? Kau tahu kan, aku harus kembali ke sana?", jawabku tetap dengan senyum walau tak semanis sebelumnya.

"Ya, aku tahu. Maka kataku tak seharusnya aku merasa begitu. Hanya saja...", tak dilanjutkan kalimatnya dan membuang muka ke arah lain.

Kucari wajahnya, menariknya ke arahku dan berkata, "Sayang, cemburu kah yang kulihat di matamu itu?". Kupandang dalam matanya, dia terdiam saja, ada sedih yang menggenang di sana. “Seingatku baru kemarin kau katakan kita harus sadar dengan kondisi kita bukan? Dan setengah mati aku menipiskan rasa yang ada sebelumnya, bahkan sempat berpikir untuk menyudahinya. Karena tak baik rasanya menyakiti hati sendiri. Lalu sekarang kau bersikap begini.”, lanjutku pelan dan penuh kehati-hatian. Sungguh tak ingin menyakiti laki-laki yang begitu kusayangi.

Dia mengeluarkan sebatang rokok milikku dan mulai menyalakannya. Menghembuskan asap yang berat dan mulai berkata, “Aku orang yang sangat realistis, kau tahu itu. Maka kukatakan hal itu siang lalu, hanya mencoba tetap menjaga kesadaran kita pada euphoria yang ada di depan mata. Tapi ini apa, aku bahkan tak dapat mengenali perasaanku sendiri. Ya, ini salahku memang, laki-laki tak seharusnya begini.”

“Aku mengajakmu bicara begini bukan untuk mencari siapa yang salah. Please, kita sudah sama-sama dewasa. Tak pantas rasanya berbicara hanya untuk mencari-cari salah siapa. Coba katakan padaku, seperti apa rasamu. Kecuali kau memang tak ingin aku tahu.”

Dia memandang dalam ke mataku, ada sayang yang dirundung sedih di sana, “I love you.”, sambil menggenggam tanganku kemudian menunduk tanpa melepaskannya.

Aku diam, tak tahu harus berkata apa. Mungkin begitu pun dia. Tetiba sesak rasa dada ini. Dinginnya udara seperti tak lagi ada artinya saat kudengar kata-katanya. Ada yang hancur lebih dalam lagi ketika mata kami beradu. Sayang yang begitu sulit digambarkan. Rindu yang entah bagaimana harus diselesaikan.

“Sayangku..”, kusentuh lembut pipi kirinya dengan tangan kananku. Dia memberiku senyum yang jika kau lihat kau akan tahu betapa dia tak ingin aku merasakan sakitnya.

“Apa menurutmu ini begitu mudah bagiku? Jika kau melihatku baik-baik saja dan tampak bahagia nantinya di sana, percayalah aku orang yang pantas mendapatkan piala Oscar setelah Marlon Brando dan Alpacino. Bahwa yang kau rasa sudah lebih dulu kupunya. Bahwa kisah kita tak mungkin kubagi dan aku harus menguatkan hati menyimpannya sendiri.”, lanjutku.

“Baru kemarin kau katakan padaku bahwa kita harus bahagia. Aku bahkan sempat percaya bahwa kau memang tak memiliki rasa yang kurasa. Sempat berpikir untuk menghapusnya saja supaya bisa merasakan bahagia yang kau sebutkan. Karena aku selalu siap menghadapi apa pun, hanya tak punya cukup waktu untuk rasa sakitnya.”

Dia diam saja mendengarkanku berbicara. Ada genangan tipis di sudut mataku yang kutahan sebisa mungkin agar tak mengajak kawan-kawannya. Tapi kemudian naluri laki-lakinya terbangunkan. Dibangunkannya tubuhku dan dipeluknya erat sekali. Sambil berkata di samping kepala, “Kau tahu kunci dari bahagia? Sungguh hanya sesimpel memiliki kesehatan yang baik dan ingatan yang buruk. Tapi kau, kau adalah satu-satunya hal di ingatanku yang aku tak pernah ingin lupa. Dan aku sungguh rela merasakan setengah bahagia saja.”

Tetiba dia menyanyikan Glow milik Frau, suaranya yang merdu mengalun lirih di telingaku, sambil memeluk dan mengayun tubuhku pelan sekali.

Hold me, you shall never ever see me
Blankets will not hesitate me
Flowers shant even wake
Kiss me, this the last time you may see me
This the last time light shall harm me
I shall cry myself to death
Funny, how you never showed your love to me
Lovely, oh the lights I can see
It’s gleaming in my eyes like when you
Burned me, tear my skin off and leave me
This the last time you may hold me
This the last time I shall say good bye

Aku menangis begitu saja di peluknya. Luruh sudah semua ketegaran yang kupunya. The universe conspires against me.


Jogja, 24 Januari 2017




catatan kaki:
lirik lagu Glow by Frau
pict by Google


Sabtu, 14 Januari 2017

Surat

Pernah pada suatu sore yang mendung, di sebuah kedai kopi sederhana yang hanya memiliki kopi enak saja, di sudut sebelah bar dekat jendela yang menyambut angin dengan penuh keramahan, seorang perempuan duduk sendirian. Dia nampak begitu murung dengan pena di tangan kanan dan sebuah kertas berisi tulisan tangannya sendiri. Sesekali berhenti menulis, memandang ke luar jendela yang sedikit terhalang oleh tanaman dalam pot yang tingginya setara dengan orang duduk, memejamkan mata sebentar dan menarik napas panjang, kemudian kembali menulis. Cukup sering dia melakukannya. Kadang menyibak rambutnya yang turun sedemikian rupa menutup wajahnya yang menunduk saat menulis. Entah apa yang dirasakannya. Entah kesedihan macam apa yang sedang menimpa hatinya. Sempat beberapa saat matanya berair, namun segera dilepasnya kacamatanya dan menempatkan dua jari di tengah-tengah antara kedua matanya dan memijit-mijitnya, seperti berharap yang dia lakukan dapat mencegah air matanya terjatuh dan cukup menyamarkannya.
 

Dia meminum coffee latte dari cangkirnya dengan gerakan yang begitu pelan seakan tak ingin kopinya segera habis. Lalu menggenggam cangkir kopi berwarna merah itu dengan kedua tangannya di atas meja, seperti mencari sesuatu yang dapat menghangatkannya. Apa yang membuatnya begitu dingin? Diraihnya HP dari dalam tas kecil berwarna biru yang diletakkan di pinggiran meja. Membuka semua aplikasi chat yang ada di dalamnya, seperti berharap ada pesan masuk dari seseorang entah siapa namun tak juga menemukannya. Dia meraih sebuah earplug dari dalam tasnya, memasangnya ke HP dan telinganya lalu mencari playlist dari sebuah aplikasi musik.
 

Dia berhenti menulis, diletakkannya pena di atas kertasnya begitu saja, hanya supaya angin tak menerbangkannya. Mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tas dan menyalakan sebatang. Menghisap rokoknya dengan pelan dan dalam, mengotori paru-parunya dengan asap dan kemudian menghembuskannya hinga membentuk sebaris asap panjang yang terpecah oleh angin di ujung jendela. Sekarang yang dilakukannya hanya diam memandang ke luar jendela dengan sebatang rokok terselip di atara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Melipat tangan kirinya untuk menyagga siku kanan dan memejamkan mata begitu saja mencoba menikmati sang waktu dengan playlistnya. 

Hal ini berlangsung cukup lama, hingga saat rokoknya tinggal sepertiga batang dia mematikannya dan meraih lagi penanya. Mulai menuliskan lagi sesuatu yang cukup panjang di kertasnya. Setelah selesai dia melipatnya, memasukkan ke dalam amplop dan segera mengemasi barang-barangnya. Menyelesaikan kopinya yang sudah dingin dan beranjak ke bar menghampiriku.
 

Dia menyerahkan selembar uang seratus ribu padaku sambil berkata, "Mbak, apa saya bisa menitipkan sesuatu di sini?
 

"Boleh mbak, asal bukan bom isinya, hehe..", jawabku mencoba menghadirkan senyum di wajahnya yang lebih murung sekarang
 

Dan dia pun tersenyum, sebuah senyum yang sangat dipaksakan hanya demi menghargai usahaku, "Enggaklah, mbak. Saya cuma mau nitip surat ini saja. Tolong berikan pada seorang laki-laki. Tingginya sekitar 174 cm, kurus, berambut ikal sebahu. Dia berjanji akan menemui saya di sini, tapi saya rasa durasi menghabiskan secangkir kopi panas yang sudah menjadi dingin di tegukan terakhir cukup bagi seorang perempuan yang menunggu. Sebaiknya tak lebih dari itu." Sambil tersenyum yang hampir tak tampak seperti senyum, kesedihan yang terkulum.
 

"Tapi mbak, maaf, bagaimana caranya saya bisa tahu laki-laki yang mbak maksud? Sedangkan melihatnya pun saya belum pernah.", jawabku ragu.
 

"Mbak akan menemukannya. Dia laki-laki dengan susunan gigi yang sangat rapi dan senyumnya begitu manis. Memakai kacamata minus dan matanya pun teduh. Dia biasa memakai wewangian citrus aqua. Saya yakin mbak akan dengan mudah mengenalinya. "Kali ini ada sirat binar di matanya saat memberikan penjelasan tentang detail si laki-laki.
 

"Ngggg.. Tapi mbak, bagaimana kalau nanti saya salah orang?"
 

"Saya percaya pembuat kopi enak secanggih mbak tak akan meleset dalam hal detail. Tak mungkin salah. Please mbak, waktu saya tak banyak. Tolong saya ya..?"
 

Bagaimana aku bisa tega berkata tidak, sedangkan sejak duduk tadi wajahnya sudah penuh gelisah yang berakhir dengan kecewa. "Yasudah mbak, saya lakukan semampu saya ya, doakan saya tak salah orang mbak, hehe" Kubuka laci dan mengambil uang kembalian untuknya, tapi saat akan memberikannya dia sudah sampai di bibir pintu dan dengan agak terburu-buru mengatakan, "Oya, dia bukan peminum kopi, biasanya dia akan memesan teh panas." kemudian segera menghambur di kerumunan orang yang berjalan kaki. Aku sempat memanggilnya beberapa kali yang kuyakin dia mendengarnya, namun seperti sengaja segera menjauh.
 

Hari ini hampir genap satu bulan dan aku belum juga menemukan laki-laki yang dimaksud perempuan itu. Atau jangan-jangan aku melewatkannya? Oh, kuharap tidak, karena ini amanat. Bagaimana jika isi surat itu begitu penting untuk disampaikan bagi perempuan itu?
Hingga sore ini, ketika matahari sudah teduh, dan angin pun berhembus begitu pelan penuh kehati-hatian. Seorang lelaki datang, melihat sekeliling sebentar untuk memilih tempat duduk dan akhirnya duduk di meja dekat jendela yang diduduki perempuan itu dulu.


Kudatangi dia untuk menyerahkan menu dan mencatat pesanannya. Diterimanya buku menu dariku sambil tersenyum, manis sekali. Dan saat itulah, angin yang berhembus pelan menyampaikan padaku wangi perpaduan citrus aqua yang kuyakin dari laki-laki ini. Maka ingatanku tertuju pada sebuah surat dari seorang perempuan yang sudah hampir sebulan kusimpan saja di dalam lokerku. Segera kuperhatikan laki-laki yang sedang membaca buku menu di depanku dengan lebih seksama. Rambutnya ikal sebahu, tinggi sekitar 174 cm, memakai kacamata minus dan memakai wewangian beraroma citrus aqua. Kemudian saat dia menyebutkan pesanannya dan mengatakan terima kasih, barulah terlihat olehku susunan giginya yang rapi menyempurnakan senyumnya dan dia memesan teh hitam panas.
 

Aku segera berlari ke belakang bar dan membuatkan secangkir teh panas pesanannya. Lalu mengambil sepucuk surat di loker dan memasukkannya ke kantong di bagian depan apronku. Mengantarkan teh ke mejanya dan memberanikan diri bicara padanya.
 

"Mmmm.. Maaf mas, saya boleh mengganggu sebentar?"
 

"Ada apa, mbak?"
 

Aku mengambil kursi di sebelahnya dan mulai bicara. "Sekitar hampir sebulan lalu, ada seorang perempuan yang duduk minum kopi sendirian di sini." Dia mulai sadar bahwa yang akan kubicarakan adalah sesuatu yang sedikit serius. "Cukup lama dia duduk di sini menanti seseorang sambil menulis. Walau akhirnya orang yang ditunggunya tak kunjung datang dan dia memutuskan menitipkan sebuah surat kepada saya untuk saya sampaikan pada orang yang telah dinanti-nantinya itu."
 

Dia terdiam, nampak berpikir. Aku melanjutkan, "Mmm.. Maaf sebelumnya mas, tapi dari ciri-ciri yang dia sebutkan pada saya, saya rasa orang yang dia maksud adalah mas. Saya sedikit bingung karena dia tidak menyebutkan nama orang yang dimaksud. Nggg.. Kalau boleh tahu, apakah mas pernah membuat janji dengan seorang perempaun di tempat ini sekitar sebulan lalu dan mas tak bisa datang karena sesuatu hal?"
 

Dia terdiam lagi, mencoba mengingat sesuatu lalu bertanya, "Seperti apa perempuan itu?"
 

"Dia berambut lurus dan panjang. Tingginya saya yakin lebih dari 165 cm namun tak lebih dari 170 cm. Sore itu dia memakai skinny jeans hitam berpadu dengan kemeja warna putih serta flatshoes warna biru. Dan kalau hidung saya tak salah, dia memakai wewangian beraroma shea."
 

Lelaki itu terdiam lagi dan sedikit menunduk agak lama, lalu kusadarkan dia, "Nggg mas...!" Dia sedikit tergagap lalu mengeluarkan HP dari sakunya dan mencoba mencari-cari sesuatu di sana untuk beberapa lama dan mengatakan, "Apakah perempuan ini yang sore itu kemari, mbak?" sambil memperlihatkan foto seorang perempuan manis berambut panjang dari sebuah akun instagram.

"Jadi betul mas laki-laki yang dia tunggu-tunggu sore itu?", jawabku singkat sambil mengeluarkan sepucuk surat dari dalam kantong apronku dan berkata datar, "Seandainya mas datang saat itu, mungkin wajahnya akan tetap secantik foto di instagram tadi saat ini. Saya hanya melihat kecewa yang terlalu dalam sore itu." kemudian meninggalkannya dengan sepucuk surat itu.
 

Aku berusaha menyibukkan diri di balik meja bar. Hanya sesekali melihat ke arahnya sekilas. Kulihat dia membuka amplop perlahan dan mulai membaca.

Surat


Prada, January 11th 2017
 

Dear, You..
 

Kau tahu terbuat dari apakah rindu?
Wangi secangkir kopi dan sejurus pandangan mata yang jatuh tak jauh dari layar telepon genggam yang masih saja diam tak menyampaikan kabar..
 

Kau tahu, sejak awal pun aku sadar betul bahwa kita tak mungkin melangkah lebih jauh lagi bersama. Tapi apakah sesulit itu bagimu untuk sebentar saja meletakkan ego dan menahan kata-kata yang tak perlu kau ucapkan pun aku sudah tahu? Apa aku meminta terlalu banyak darimu? Kurasa kita sudah sama-sama dewasa dan bisa lebih bijak menghadapinya.
 

Aku menunggumu, selalu begitu bukan? Tapi menghabiskan secangkir kopi panas yang sudah menjadi dingin di tegukan terakhir cukup bagi seorang perempuan yang menunggu seorang lelaki. Selanjutnya, aku harus tahu diri.. :)
Satu hal yang kuingin kau tahu. Kita tak pernah bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa dan kapan. Maafkan saya jika ini terlalu mengganggu buatmu.


yours faithfully, Vie.





Kediri - Jogja
Januari 2017







Jumat, 11 September 2015

Ada Semut di Kopiku Pagi Ini

Kuperhatikan saja dia
Berjalan memutari bibir cangkir
Mencari sesuatu yang kuyakin tak ada di sana
Butir gula..

Sempat dia menyisip airnya
Sedikit sekali dia celupkan kepalanya
Atau mungkin juga lidahnya
Ah, kurasa semut tak berlidah
Tapi dia tahu apa itu manis

Tak lama beberapa kawannya menyusul
Nekad juga mereka, kupikir
Jelas tak ada sebutir gula pun di sana,
Kopiku pahit pagi ini
Lalu apa yang dicarinya?

Kubiarkan mereka
Aku mulai paham
Dan tersenyum saja memandangnya

Mereka tak memerlukan gula ternyata
Bibirku yang sempat menempel meninggalkan rasa manis di sana
Semoga mereka tak mencandunya,

Seperti kau yang tak tahu harus menggantinya dengan apa

Kamis, 27 Agustus 2015

Love But Whisper, Are You Listening?

Ssstt.. Aku mencintaimu
Iya, mencintaimu..
Sedih rasanya, tak dapat membagi hal indah ini ke banyak telinga
Menyimpannya seorangan saja, untukku..

Pernah kau mengalami ini?
Mencintai sesungguh-sungguhnya,
Menyayangi sedalam-dalamnya,
Dan menyimpan isak karenanya, seorangan saja..

Jatuh cinta yang tak selalu manis
Ingat kataku, cinta tak pernah datang tepat waktu
Entah kenapa Tuhan menciptakan cinta yang tak dilengkapi aplikasi tanggal dan waktu
Dia memang Maha Segala-galanya, termasuk Bercanda
Dan kita, linglung dibuat-Nya, seorangan saja..

Boleh kuminta waktumu?
Sebentar saja, janji tak akan lama..

Coba kau ingat lagi, pernah ada yang mencintaimu sepertiku?
Pernah, ada yang menyayangimu tanpa tahu dan butuh alasan untuk itu?
Pernah, ada yang memberimu sebentuk hati dan tak meminta lebih dari sekedar senyum bahagia sebelum dan saat bangun tidur?
Atau pernah, kau merahasiakan sesuatu yang begitu membuat bahagia, seorangan saja?

Dengar aku,
Aku membutuhkanmu untuk terus menyimpan itu
Aku butuh kerelaanmu menyimpan senyum itu
Hanya untukku dan kamu, berduaan saja…
Jangan ada lainnya, kau tahu kenapa : )


Love but whisper, I hope you’re listening..



Selasa, 25 Agustus 2015

Biarkan Saya Bahagia, Sebentar Saja

Aku suka melihatmu sibuk begitu
“Kemalasan adalah musuh terbesar laki-laki”, katamu
Kubiarkan saja kau di sana
Menanti saat aku mendapatkan matamu mencuri pandang ke arahku
Dan sempat saja wajahmu memerah karenanya

Aku suka melihatmu diam saja di depan laptopmu, mengerjakan sesuatu
“Sebentar sayang, kuselesaikan dulu ini ya”, katamu
Kupandangi saja kau dalam senyum
Aku tak pernah berani memandang matamu saat berbicara denganmu
Jadi biar saja kucuri di saat-saat begini

Aku suka saat kau acak riap rambutku
Padahal kau tahu setengah mati aku membuatnya tampak baik
Dan kemudian menarikku ke pelukmu
Dan mencium dahiku begitu saja
Jantungku berhenti sejenak di sana, asal kau tahu

Jangan tanya apa yang tak kusuka
Pasti ada
Dan kau pun tahu itu apa
Ah, sudahlah.. Aku sudah memulainya dengan yang kusuka
Jangan kau rusak dengan pertanyaan tak suka,

Biarkan saya bahagia, sebentar saja.. 

Senin, 18 Mei 2015

Semoga Kita Tetap Menjadi Kita

Pernah kalian merasa beruntung? Hal apa yang membuatmu merasa begitu beruntung? Apa yang dapat lebih kau syukuri dari memiliki seseorang yang sayangnya begitu dalam padamu dan tulusnya tak perlu kau ragukan?

Adalah dia, kakak, sepupu, kesayangan, laki-laki yang dicintai banyak wanita dan pesonanya sulit untuk membuatmu tak menengok (walau hanya) mendengarnya berbicara. Kak Seno, begitu aku memanggilnya sejak kecil. Aku hampir lupa kapan aku mulai begitu mengingatnya. Tapi tak akan pernah kulupa bagaimana aku begitu terkagum-kagum pada pemikiran dan logat melayunya yang menurutku begitu syahdu.

Adalah dia, yang tak pernah melewatkan mengucapkan selamat ulang tahun padaku di setiap tanggal 6 bulan ke 11 tahun-tahun yang kulewati, dengan kata-kata manis yang terlalu sulit bagiku untuk tak mengingatnya. Selalu disisipkannya doa-doa indah untukku di hari itu. Harapan-harapan indahnya padaku, untuk selalu menjadi perempuan luar biasa serta kuat dan semakin kuat tiap tahunnya. Tak pernah diizinkannya aku menyerah begitu saja pada masalah. Selalu kuingat bagaimana dia memujiku dengan cara yang tak biasa, cara yang sama sekali berbeda dengan laki-laki lain melakukannya. Hanya ketulusan yang dia punya untukku, tak ada tujuan lainnya.

Adalah dia, laki-laki yang sangat sering memanggil sayang dan menciumku tanpa canggung di depan umum. Bahkan di depan kekasihnya sendiri! Memasang foto saat dia menciumku begitu mesra di jejaring sosial miliknya. Hingga banyak kawan kami yang kemudian menyempatkan bertanya secara pribadi tentang siapa dia, siapa saya dan ada hubungan apa. Tak bisa kutahan tawaku setiap ada orang yang menanyakan hal ini. Dan tak jarang kugoda mereka hanya dengan menjawab “RAHASIA!” hahaha..

Adalah dia, laki-laki yang padanya aku berani menaruh harap tanpa takut akan menyesal kemudian karena kecewa dengan harapanku sendiri. Selalu kuingat pertanyaannya setiap kami bertemu, “Kamu apa kabar, Vick?” dan betapa sedihnya dia jika jawabku adalah mangu penuh ragu. Pernah suatu kali kuceritakan permasalahanku padanya, dan dengan menghela napas dia mengatakan, “Selalu kuingatkan padamu, Vick. Jangan pernah bertaruh jika tak yakin menang.” Lalu bagaimana lagi aku harus membela diri dengan kata-katanya ini?

Adalah dia, satu-satunya laki-laki selain bapakku yang tidur semalaman dengan memelukku dan tak memikirkan sex sama sekali. Sepanjang malam kami berbagi cerita dalam pelukan. Kami selalu menikmati kebersamaan kami yang sangat jarang. Memanfaatkan kesempatan yang semakin hari semakin menyempit karena pekerjaan dan tanggungjawab pada keluarga yang saat ini kami miliki. Tapi tak apa, ini cukup bagi kami. Dia telah mengajarkan dengan baik padaku untuk selalu “mencintai keterbatasan”. Percayalah, itu tak mudah. Tapi kami pandai menerapkannya.

Adalah dia, guru tak resmi yang kubayar hanya dengan senyum untuk ilmu-ilmu hidup yang tak pernah kudapatkan di bangku sekolah mana pun. Selalu kuingat tulisannya, “Kami dibesarkan oleh masalah, masalah dan masalah”. Aku tersenyum saja membacanya. Memang tak sedikit dan tak ringan masalah yang kami miliki sepanjang kebersamaan kami. Tapi itu tak pernah membuat kami menyesali hidup, bahkan justru makin fasih untuk untuk saling menguatkan satu sama lain.

Adalah dia, yang selalu mengingatkan agar “kita bisa selalu menjadi kita”. Ada beberapa fase yang kami lalui dan memunculkan pemikiran takut kehilangan “ke-kitaan” kami, saat aku akan menikah dan saat dia akan menikah. Kami berdiskusi panjang sekali saat aku memutuskan untuk menikah. “Apa yang kau cari dari menikah sih, Vick? Kalau hanya anak yang kau cari, kau bisa mendapatkannya dari mana saja, kapan saja, tak harus menikah. Tapi jika masalah yang kau cari, maka menikahlah.”, katanya ringan tanpa rasa bersalah di depanku yang mendadak pucat mendengarnya. Bagian mana dari kata-katanya ini yang kalian tak setuju? Tapi biarlah, kuijinkan dia mengungkapkan rasa takutnya aku akan tersakiti oleh orang lain yang tak pernah begitu dikenalnya dan kemungkinan dia tak bisa mencegahnya terjadi. Hingga kemudian dia mengatakan, “ Apa pun yang terjadi nanti saat kau bermasalah, aku tak perduli dia ataukah kau yang salah, aku akan selalu di belakangmu untuk membelamu, karena kita disatukan oleh darah.” Manisnya dia.. J

Dia sangat laki-laki. Tak pernah kulupa bagaimana caranya memperlakukan wanita. Semua yang pernah bersamanya pasti tahu dan akan selalu mengingatnya. Beruntunglah istrinya yang begitu dia sayangi dan diperlakukan sangat mulia olehnya.


Jangan pernah berhenti menyayangiku. Aku akan selalu membutuhkanmu untuk membagi tawa dan sedihku. Teruslah menjadi “brengsek” untuk kita, jangan pernah menyudahinya, kita membutuhkannya untuk tetap bertahan hidup dan naik kelas bersama-sama. Semoga kita tetap menjadi kita. Tresnaku tanpa upama..

Sabtu, 21 Maret 2015

Mencintai Perempuan Semampumu




“Jika seorang laki-laki sangat mencintai seorang perempuan, saat perempuan yang dicintainya tepeleset maka batu yang ada di dekatnya lah yang akan di salahkan.”

Pernah mendengar istilah manis ini?

Saya mendengarnya dari seorang kawan laki-laki beberapa waktu lalu. Sayang saya tak melihat mimiknya langsung saat mengatakannya, karena dia duduk di belakang saya. Tapi saya bisa tahu dari nadanya, dia bersungguh-sungguh mengatakannya.

Sebentar. Biar saya ceritakan sedikit tetang kawan saya ini. Dia laki-laki biasa. Beberapa tahun lebih tua dari saya. Jangan ditanya tentang pengalaman hidup. Dia jauh lebih senior dari saya dalam merasakan pahit manis kehidupan. Dia pernah sukses, benar-benar sukses dengan usahanya, sampai suatu ketika terjatuh dan hampir tak memiliki apa-apa. Belum lama saya mengenalnya, tapi sering terkaget-kaget dengan pemikiran-pemikiran dia tentang hidup, cinta, agama, kegagalan dan banyak hal lainnya. Pemikiran yang menarik dan masuk akal.

Baiklah, sesaat saya teringat sebuah pemikiran yang hampir mirip dengan penyataan di atas. Saat itu saya sedang membaca sebuah artikel tentang cara mendidik anak. Di sana disebutkan bahwa, “Jangan membiasakan menyalahkan benda atau makhluk lain yang ada di sekitar anak-anak saat mereka terjatuh”. Dan disertakan pula contoh, ketika anak jatuh kita membela mereka dan menyalahkan batu, cicak atau apa pun yang ada di sekitarnya. Saya paham maksudnya, supaya anak tahu mengapa dia bisa terjatuh agar lebih berhati-hati dan menyalahkan hal atau orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan.

Namun coba kita baca lagi kalimat manis di atas. Hal tersebut terasa sangat manis saat si pelaku adalah seorang lelaki dan perempuan dewasa. Saya tersenyum mendengarnya. Ada berapa laki-laki yang benar-benar seperti itu di dunia ini? Maaf, jika pertanyaan saya terdengar sangat sinis. Tapi begitulah saya, tak pernah menelan begitu saja hal-hal manis tentang hubungan laki-laki dan perempuan.

Pram pernah menulis, “Memiliki pasangan adalah hal yang biasa saja, yang hebat-hebat hanyalah tafsirannya”. Entah kenapa, tulisan Pram tersebut terasa lebih realistis dan bisa diterima. Tak apa jika kalian tak sependapat, saya paham bahwa banyak perempuan menyukai hal-hal manis yang dilakukan pasangan mereka padanya, pun saya kadang-kadang menginginkan hal-hal manis tersebut. Saya perempuan biasa, manusia biasa. Dan percaya hal-hal manis seperti di atas ada, di film-film, hehe
Pernah suatu ketika saya dan seorang kawan membahas, “laki-laki tukang gombal, karena perempuan suka digombalin”. Kami membahasnya sambil tertawa-tawa memang, walau ada sedikit ketidak setujuan saya dari pernyataan tersebut. Ini bahaya jika semua perempuan menelan begitu saja hal-hal manis (yang saya sering menyebutnya gombal) dari laki-laki. Saya khawatir akan banyak perempuan yang terkena diabetes karena hal ini, hehe :D

Oh man, tolong ajari saya untuk tak terlalu sinis pada hal-hal manis. Saya terlalu sering berpikir bahwa laki-laki yang sungguh-sungguh mencintai dan sangat menghargai perempuannya bisa dihitung dengan 10 jari saja di dunia ini. Hal tersebut biasanya hanya terjadi di awal-awal hubungan saja. Selanjutnya saya lebih sering melihat pasangan-pasangan yang “lupa” akan rasa yang mereka miliki saat awal mereka bertemu dan begitu sangat saling mencintai. Hal ini bisa dikarenakan banyak hal, salah satunya intensitas bertemu yang lebih sering. Yang begini ada? You tell me J

Hingga suatu ketika saya mendapatkan “istilah” baru dari seorang kawan, reuni katresnan. Dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah “reuni rasa cinta”. Hal ini disampaikan kawan saya pada ulang tahun pernikahan saya dan suami yang ke 8. Tujuannya adalah untuk mengingat lagi, apa yang dulu membuat kita sangat mencintai pasangan kita, mengulangnya lagi, agar rasa tersebut tak terkikis oleh waktu dan lebih buruk lagi terlupakan. Menjadikannya lagi kebiasaan, mencintai seperti waktu awal.


Saya memang tak biasa dengan hal-hal manis. Bukan berarti hidup saya tak manis, tapi mempercayai hal-hal realistis selalu lebih manarik buat saya. Mencintai perempuan semampunya terasa lebih bijak. Saya hanya khawatir akan begitu patah hati jika kemudian hal-hal manis yang dilakukan laki-laki ke perempuannya lambat laun semakin menghilang. Ini tentang kehilangan sesuatu yang indah, bukan? Dan itu pasti tak mudah. Tak apa, ini manusiawi, kita manusia kan?

Rabu, 25 Februari 2015

More

"Ok, sampai jumpa minggu depan. Dan jangan lupa paper minggu ini harus terkumpul semua minggu depan. Terimakasih". Kututup laptop dan membereskan mejaku, mengakhiri kelas. Berjalan di koridor kampus menuju ruang dosen. Membereskan beberapa buku dan menandatangani berkas-berkas yang ditinggalkan dengan note di mejaku.

Kukendarai mobilku lebih pelan dari biasanya. Baru pukul 14.00 dan hujan telah mengguyur kota ini, rintik namun intens. Ada Etta James mengalun merdu di speaker mobilku. Kusempatkan melepas blazer ketika berhenti di trafficlight, membuka sedikit jendelaku dan menyalakan sebatang marlboro light. Etta James menyanyikan "I've Been Loving You Too Long" dan aku pasrah dibuatnya merana.

Ingatanku kembali ke percakapan kita beberapa waktu lalu saat aku akan meninggalkan kotamu, berpamitan.
"Saya pulang. Kutinggalkan hatiku di kota ini. Kuyakin akan over bagage jika kubawa serta, berat.", kataku sambil menunduk dan membuang nafas berat.
"Tak apa, akan kuantar kembali ke sana suatu saat nanti.", katamu sambil tersenyum menggenggam tanganku erat. Mencoba menghibur.
Aku tersenyum, yang kuyakin senyum pahit yang kau lihat. Maafkanlah aku yang tak pernah pandai bersikap "tak apa-apa" padamu. Kuyakin kau mengerti.

Kuhentikan mobilku di parkiran sebuah taman. Hujan telah berhenti, dan sore ini menjadi cantik sekali dengan matahari merah yang memenangkan langit dari mendung. Kulepas heelsku dan menggantinya dengan flatshoes. Kubawa turun sebuah novel dan membawa serta hapeku saja. Kusempatkan membeli ice thai coffee di coffeeshop dekat parkiran. Kemudian menyusuri jalan konblok menuju sebuah bangku yang terletak tak jauh di pinggir danau kecil berbunga teratai. Duduk di sana, dan membiarkan sinar matahari mencuri kulitku di balik bayangan pohon di belakangku. Kuikat rambut panjangku ke atas dengan sedikit berantakan, tak apa, aku menyukainya seperti ini.
Aku mulai membuka novel yang kubawa.

Namun tak lama, ternyata aku lebih ingin menikmati sunyi di sore ini. Kututup lagi bukuku dan menyalakan sebatang rokok. Memandang kosong ke danau di depanku. Membiarkan mataku tersakiti okeh kilau airnya yang luar biasa. Kuminum kopi dinginku yang selalu mengingatkanku akan ejekanmu, "Bukan seperti itu cara menikmati kopi, cah ayu.", katamu. Namun aku tersenyum saja mengingatnya. Kau tahu aku bukan peminum kopi, dan kau bilang senang sekali ketika kubilang kuingin minum kopi. Coba ajariku cara mengingatmu yang lebih baik lagi selain dengan tersenyum seperti ini. Tak pernah kutemukan. Kupasang ear plug dan Andrea Bocelli mulai menyanyikan More.
"More than the greatest love the world has known, this is the love i give to you alone..."
Kupasrahkan diriku pada rindu padamu yang tak mengenal ampun.
Kutengok jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 16.12. Aku kembali ke mobilku dan menyetir pulang.

Sesampai di rumah, memanaskan air dan menyeduh secangkir teh. Duduk di sofa tanpa menyalakan tv, masih dengan setelan kerja. Menyalakan mp3 dengan remote dan diam mendengarkan Great Big World menyanyikan Say Something.
"And i will swallow my pride, you're the one that i love and i'm saying goodbye..."
Kupejamkan mata dan tersenyum saja

Engkau selalu menjadi yang tersayang untukku. Tak pernah kuingin mengubahnya. Tak pernah ingin menyudahinya.


Jogja, end of  September 2014

Hari Ketiga



Tidurlah, sayang
Istirahatkan sakitmu, beri waktu mata sayumu untuk memejam
Agar hilang lelahmu, setelah berkali-kali menangis menahan sakit karena jarum-jarum suntik yang sudah hampir kehabisan tempat untuk bekerja di kedua tanganmu, di hari ketiga
Maafkanlah suster-suster di sini yang tak tahu cara menyembuhkanmu tanpa harus menyakitimu begitu
Sudah berkali-kali kupanjatkan doa ke Tuhan dan meminta sakitmu untukku, namun Tuhan memang suka bercanda dan kali ini sama sekali tak lucu, ya Ibu tahu
Mari sini, tidurlah di lengan Ibu
Agar bisa kupandangi lagi wajah tulusmu menjalani semua ini
Agar Ibumu punya waktu untuk melepas isak di punggungmu
Jangan khawatirkan esok, malam ini akan kuminta kembali pada Tuhan untuk kesembuhanmu
Semoga saja Dia tidak sedang sibuk atau piknik,
Hampir habis air mata Ibu melihat kalian lemah begitu
Pejamkan matamu, nak
Lupakan sejenak ngilu di tubuhmu
Lelaplah dalam mimpi-mimpi
Tak henti mulut dan hati ibu merapal segala doa untuk kebaikan kalian
Demi apa? Demi melihat lagi senyum kalian yang selalu jadi penawar untuk segala sakit yang dokter mana pun tak punya obatnya
Demi Tabina


Jogja, February 8th 2015


Kamis, 09 Januari 2014

Angin Sore

Ketle ku berteriak, kumatikan kompor dan menyeduh teh tubruk yang kutuang di cangkir berbahan seng old school kesayanganku. Menambahkan sesendok teh gula dan menikmati uap wangi teh hitam yang selalu kusuka.

Mari duduk bersamaku. Sekedar membagi senyum atau diam pun tak apa. Menertawakan pahitnya hidup atau sekedar membagi cerita manis cinta yang ternyata tak selalu membuat kita bahagia, dan please jangan tanya kenapa.

Sebentar, biar kunikmati dulu tehku. Menikmati uapnya yang menari-nari di wajahku saat kudekatkan cangkir ke bibirku. Aku selalu memejamkan mataku di saat-saat seperti ini. Memanjakan uap, wangi teh dan keabadian untuk berbahagia. Sssstt,, biarkan saja dulu mereka di sana.

Sering kuangankan kau hadir bersamaku di saat-saat seperti ini. Menikmati angin sore berdua saja. Bergenggaman tangan dan bertatap mata. Membagi senyummu tanpa harus kuminta. Dan sesekali kau acak riap rambutku, katamu kau suka melakukannya. Tak pernah lagi kutanya "mengapa", aku lebih memilih senyum alih-alih menanyakannya lagi.

Namun kau tak ada. Seiring waktu terlalu sulit untuk menemukan hadirmu. Terlalu banyak yang tak lagi kau tahu tentangku. Terlalu sering aku kecewa tak berbatas waktu. Terlalu sepi sudah berandaku. Dan angin sore ini, kuharap dia tak sepertimu.

Jogja, Jan 13th 2014

Kamis, 19 Desember 2013

Fallin Love at the Coffee Shop

Sore itu coffee shop yang kusinggahi untuk pertamakalinya di kota ini sedikit ramai pengunjungnya. Aku memilih duduk di pinggir, sedikit menjauh dari keramaian. Aku tak pernah suka pada kota ini. Dengan segala hingar bingar dan keangkuhan orang-orangnya. Tapi aku suka menyendiri di keramaian seperti ini. Aku bisa menciptakan duniaku sendiri tanpa harus peduli dengan tatapan orang sekitar yang memandangku dengan aneh. "I just don't give a shit!"

Aku sering melakukan ini. Pergi ke coffee shop sendiri saja, menyelesaikan beberapa pekerjaan, menulis, atau sekedar menikmati sore dan kawan baiknya, kopi. Senja itu kubawa beberapa sisa pekerjaan yang harus segera kuserahkan esok. Membuka journal dan beberapa e-mail, mengetik dan menjawab agenda-agenda yang harus diselesaikan seminggu ke depan. Menyalakan rokok dan menghisapnya sesekali sambil mengetik. Terbayang seperti apa berantakannya meja dan keyboardku? Ah, aku menikmati ini. Kesendirian yang sama sekali tak sepi.

Kebiasaanku adalah mengikat rambutku yang terurai baik ke belakang agar terkurangi keriuhan dengan segala pekerjaanku. Dan itu sering kulakukan di tengah-tengah aku mengerjakan semuanya. Setelah selesai mengikat rambut, kupakai kembali kacamata bacaku. Tak kusadari di ujung ruangan ini ada seorang lelaki yang sudah lama memperhatikanku. Dia duduk sendiri saja. Membaca buku dan merokok. Melirik ke arahku sesekali untuk kemudian melanjutkan membaca bukunya. Dia berpakaian santai, memakai celana jeans warna gelap, polo shirt, dan sepatu keds berwarna navy.

Di mejanya terhidang secangkir kopi hitam. Rokoknya menggantung di asbak yang lebih rapi dari milikku. Dan saat itulah. Saat aku berhenti mengetik untuk berfikir sejenak tanpa merubah jari-jariku dari keyboardku. Saat ada seekor burung yang hinggap di sisi luar jendelaku. Saat dia berpaling dari bukunya dan menatapku diam-diam. Setelah mataku terpejam beberapa saat dalam penat. Mata kami bertemu di sebuah sudut yang sudah kulupa cara menghitungnya dengan ilmu pitagoras yang diajarkan sewaktu duduk di bangku SMA. Melalui sebuah cermin yang ada di salah satu dinding tempat itu.

"Deg!" Jantungku berhenti sepersekian detik karena nafasku yang tertahan. Aku gelagapan salah tingkah. Kembali menatap layar laptopku sambil membenahi kacamataku. Berusaha mengetik sesuatu dan gagal dengan sukses, konsentrasiku buyar. Masih terlintas bagaimana matanya "tersenyum" melihatku tadi. Ah, manisnya! Tak bisa kutahan senyumku menuliskan ini. Dan kawanku Dita yang duduk di sebelahku saat ini memakiku, "Mbak, sehat?" hahaha...

Biar kulanjutkan. Dapat kulihat dari sudut mataku, laki-laki itu masih saja mencuri tatap ke arahku sesekali. Dan aku sama sekali tak berani melihat ke cermin di dinding tadi lagi. Kucoba setengah mati menyelesaikan pekerjaanku. Keadaan ini membuatku hanya mampu menyelesaikan 2 e-mail lain dan sudah, aku berhenti bekerja. Bahkan rokokku tak mampu membantuku berkonsentrasi lagi.

Kututup laptopku, membereskan journalku yang berserakan di meja dan memasukannya ke dalam tas. Mejaku terlihat sedikit lengang sekarang. Kuambil sebatang rokok lagi dan mulai menyalakannya. Aku menatap jauh ke luar jendela, dan betapa sulit untukku tak tersenyum saat itu.

Tak lebih dari 2 menit sejak kunyalakan rokokku, lelaki itu menghampiri mejaku dan berkata dengan sopan, "Maaf, apakah nona menunggu seseorang? Jika tidak, maka bolehkah saya duduk semeja denganmu agar saat pulang nanti saya bisa memiliki senyum yang sama dengan yang kau punya saat ini?"
Damn'! Mukaku merah seketika. Entah harus menjawab apa namun tak mampu untuk menolak manisnya, aku mengangguk dan mempersilahkannya dengan salah tingkah.

Kuminum coffee latte ku yang sudah dingin, sambil mataku memandang ke arah lain. Matanya tak berhenti menatapku. Tuhan, rasanya ingin ditelan bumi. Dan dia mulai berkata, "Saya menunggumu cukup lama dengan pekerjaanmu. Berharap agar kau segera selesai dan saya dapat duduk di sini." Aku hanya tersenyum, tak tahu harus bagaimana. Dia melanjutkan, "Maafkan ketidaksopananku, tapi aku akan menyesali hidupku jika sampai kubiarkan kau pulang tanpa kuketahui namamu." Dia mengulurkan tangannya, "Hans..". Kusambut tangannya, "Ann.."

Dia orang yang sangat manis. Tak cukup secangkir kopi untuk menceritakannya. Namun manisnya cukup untuk menggantikan peran gula di kopiku. Bagaimana kopimu? Selamat hari Minggu.

Jakarta-Jogja 21 Desember 2013

Sabtu, 07 Desember 2013

Sexy Train

Sudah hampir 23,8 menit aku menunggu kereta yang akan membawaku menuju kotamu, dia belum juga datang. Seolah sengaja mengejekku dengan membuatku menunggu lebih lama. Dia tahu betul aku tak mungkin beranjak pergi sebelum dia datang menjemputku.

Satu menit, lima, enam... Ah, ini mulai membosankan. Oh, tidak tidak, mungkin aku saja yang kurang bersabar. Aku mulai menyalakan rokok keenamku selama menunggu keretaku datang. Menghisapnya perlahan, menikmati setiap hembusan asap yang memenuhi paru-paruku. Belum habis separuh rokokku kudengar pengumuman dengan suara pecah yang dikarenakan kualitas *speaker* yang memang jelek, keretaku segera datang.

Kumatikan rokokku, meneguk air mineral, dan segera bersiap menyambutnya. Tampak dari kejauhan dia mengedip nakal padaku, dia tahu aku menunggunya.
Sampai pada saat dia berhenti sempurna, aku berjalan menuju pintu gerbongku. Menarik nafas sebentar dan memasukinya, mencari tempat dudukku. Meletakkan koperku di atas dan duduk di sebelah seorang perempuan yang kurasa beberapa tahun lebih muda dariku.

Tak lama kemudian keretaku ini mulai merambat di atas titiannya. Mulanya pelan, namun dia sangat lihai dalam hal ini, menambah kecepatannya perlahan namun pasti. Gemerontang sambungan gerbong dan roda kereta bersahutan. Aku tak terusik, aku kangen bunyi ini.

Tak sampai satu jam, aku beranjak ke restorasi. Memesan teh panas dan memasang headset ke telinga.
Kulihat dirimu di sana. Menatapku lekat dan mulai berkata, "Terlalu mudah untuk menemukanmu di kereta yang kau sayang-sayang saat membawamu ke barat, dan tak henti kau maki saat membawamu kembali ke timur ini. Tak pernah kau ganti pilihanmu, teh panas." Lalu tersenyum dan bertanya, "Apa kabarmu, cah ayu?"

Bencinya aku tiap kau tanya dengan kalimatmu itu. Aku kerepotan menyembunyikan muka merahku. Benci pokoknya!
"Tak sebaik yang kau lihat sebenarnya", jawabku menahan sipu.

"Tak apa, selama masih bisa kulihat semburat pink di pipimu itu, kurasa kau cukup baik.", katamu.
Aku segera membuang pandang ke arah luar jendela, mengambil sebatang rokok dan segera menyalakannya. Berusaha tak menatapmu.

Namun kau dekatkan wajahmu mengikuti wajahku. Dengan tenang menatapku seolah aku tak keberatan.
"Seperti apa rasanya?", tanyamu.

Aku menatapmu, menghela nafas.
"Kupikir bisa mengobati rinduku dengan merokok yang sama denganmu. I wonder if you do the same thing, sometime."

Kau tersenyum, "Apa yang kau cari? You know i'm always around."
Aku menatap ke hamparan sawah hijau yang kulalui. Tak suka sekali dengan rasaku ini. Kuminum tehku yang mulai dingin dan hambar karena percakapan ini kurasa.

Kau melanjutkan, "Hanya beberapa jam dari sekarang kita akan berada di bawah langit yang sama. Please,, mana senyummu?"

Aku diam. Tak berani menatapmu, khawatir kau menangkap keraguan di mataku. Lalu kau genggam sejenak jemariku, dan mengusap pipiku, untuk kemudian berlalu pergi meninggalkanku.

Kunyalakan lagi sebatang rokok, kali ini marlboro light. Menghisapnya dalam dan hanya beberapa kali kemudian mematikannya, aku tak tahan terlalu lama seperti ini.

Meminum tehku dan tersedak kaget saat pramugara membangunkanku, "Gambir mbak.", katanya.

Kukemasi barangku dan menenteng koper keluar dari kereta. Tak lama hpku berbunyi, a text message, "Kau sungguh memakai baju abu-abu itu :)"
Senyumku mengembang seketika, kulihat kau di ujung sana tersenyum menungguku.

Sambil berjalan kubalas smsmu, "Dan kau sungguh-sungguh menantiku". Kemudian memasukkan hpku dan menyapa *driver* yang menjemputku.

Di dalam mobil kutulis lagi sebuah pesan pendek, "Aku senang bisa melihatmu di sana, betapa akan menjadi bahagia andai dapat memelukmu, sebentar saja.."

Jogja, Sunday December 8th 2013

Minggu, 01 Desember 2013

Tuhan di Hari Minggu

Pertemuan semalam dengan seseorang menyisakan senyum sempurna
Pagi ini menawarkan rindu yang lain
Kopiku pun lebih manis dengan gula separuh dari biasanya
Apa lagi yang ingin kau ketahui?

Semalam Tuhanku baik sekali
Dia memudarkan sedihku dengan cara yang luar biasa
Sore ini kami minum teh berdua
Dia tak menceritakan alasannya, "Itu terlalu biasa", kata-Nya
"Yang tak pernah kau bayangkan mungkin terjadi pun Aku mampu menjadikannya", lanjutnya.

Tanganku bergetar hebat menuliskan ini. Man, ini Tuhan yang sedang minum teh bersamaku! Dia mengatakan "bakat-Nya" tanpa nada sombong sedikit pun.

Kuberanikan bertanya kepada-Nya. Kataku, "Tuhan, kukira semua makhluk-Mu sadar betul tentang "kebolehan-Mu", let me tell you one thing, Engkau Maha Bercanda, Yaa Tuhanku, tapi sorry to say, kadang bercandamu itu jauh dari lucu. Aku sering Kau buat merana menelan rindu yang sulit kugapai penawarnya. Dan saat kucari, sering yang kudapati Kau sedang sibuk "mengiyakan" yang lainnya. Kenapa?"

Dan dengan super cool dia menjawab, "Menurutmu begitu? Menurut-Ku kau berlebihan. Tak perlu seperti itu kau menyanjungku, toh sekarang kita minum teh bersama. Dan kau pun tahu, cobaan dari-Ku adalah untuk kau coba, apa beratnya menikmati itu?"

Aku hampir memaki dengan mulutku yang menganga getir mendengar jawab-Nya. Kutelan makianku dengan meneguk tehku. Kataku dalam hati, "Ok, kalau cobaan dari-Mu adalah untuk kucoba, apakah godaan dari-Mu adalah untukku bisa menikmati goda?"

Tetiba dia berkata dengan nada yang tak bisa kutuliskan seperti apa lembutnya. "Kalau kau pikir hanya kau saja yang membenci matematika maka kau salah besar. Aku pun tak pernah menyukainya. Pelajaran bahasa selalu lebih menarik, dan Kurasa kemampuanmu mengaplikasikannya boleh juga. Tapi apakah semenarik itu bagimu mendebat-Ku?"

Glek! Aku menelan ludah. Mukaku pucat seketika. Aku menunduk dalam, dalam sekali.

Dia mengangkat daguku, lembut sekali. Memandangku teduh dan berkata, "Aku menganugerahkan ibu untukmu, yang kasih sayangnya padamu tak ada bandingannya. Dan ketahuilah kesayangan-Ku, Aku menyayangi umat-Ku melebihi sayang seorang ibu pada anaknya."

Coba beri tahu aku sesuatu paling tangguh yang kalian tahu. Aku membutuhkannya untuk menyangga air mataku agar tidak jatuh. Bahkan leher beton penyangga fly over terbesar di kota ini pun tak mampu menahannya. Dan menyerah begitu saja pada pemilik gaya gravitasi paling kuat di jagat raya, hati.

Dia pergi tanpa menghabiskan teh-Nya
Membiarkan rokok yang baru sepertiga bagian dihisap-Nya
Tanpa marah, namun tidak juga menyempatkan mengusap air mataku

Kuberanikan diri memanggilnya, "God, can i call?"
Dia menjawab tanpa suara, hanya kulihat dari gerak mulutnya mengatakan, "a-n-y-t-i-m-e"


**Jakarta, 1 Desember 2013**